Minggu, 13 Januari 2019

BAB XIII Problema morfologis dalam bahsa indonesia

BAB XIII

Problema morfologis dalam Bahasa Indonesia

Menurut Muslich, 2008: 131 pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbulkan berbagai macam problema. Terdapat tujuh pengelompokan problema, sebagai berikut:
1.      Problema Akibat Bentukan Baru
Menurut Muslich, 2008: 131- 134 menyatakan pada kalimat “keberhasilan yang kamu capai selama ini harus kamu pertahankan” terdapat kata keberhasilan yang kata tersebut merupakan bentukan baru. Terdapat kontruksi berupa prefiks + prefiks + bentuk dasar + sufiks. Hal yang demikian tidak ditemukan sebelumnya. Pembentuka kata keberhasilan tidak dilakukan secara serentak, namun dengan bertahap. Pertama, kontruksi dibentuk dari gabungan {ber-} dan henti. Kemudian, kontruksi berhenti dibentuk dengan menambahkan {men-} dan {-kan} sehingga menjadi kata memberhentikan. {men-} dan {-kan} berperan sebagai simulfiks.

2.      Problema Akibat Kontaminasi
Menurut Muslich, 2008: 134 menyatakan kontaminasi merupakan gejala bahasa yang mengacaukan kontruksi kebahasaan. Dua kontruksi yang mestinya berdiri sendiri secara terpisah kini dipadukan dan berakibat menjadi kacau. Misalnya kontruksi “diperlebarkan” yang mestinya berdiri sendiri “diperlebar” atau” dilebarkan”. Oleh kerena itu, kontruksi “diperlebarkan” dianggap kontruksi yang rancu.

3.      Problema Akibat Unsur Serapan
Menurut Muslich, 2008: 135 menyatakan adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri. Misalnya pada bentuk kata data-data, datum-datum, fakta-fakta, faktum-faktum yang berasal dari bahasa latin yang berarti jamak dan tunggal. Ternyata yang berhasil diserap ke dalam bahasa Indonesia hanya bentuk jamaknya saja, yaitu data dan fakta. Oleh karena itu, bentuk data, fakta, dianggap sebagai bentuk tunggal. Kata data-data dan fakta-fakta dianggap benar, sedangkan datum-datum dan faktum-faktum dianggap salah.

4.      Probema Akibat Analogi
Menurut Muslich, 2008: 136 menyatakan analogi merupakan bentukan bahasa dengan menurut contoh yang sudah ada. Sebagai contoh pada bentuk ketidakadilan, kita dapat membentuk kontruksi ketidakberesan, ketidakbaikan, dan seterusnya. Kata serapan juga ada yang dianalogikan secara salah. Misalnya pada kata alternative dijadikan alternasi sebagai akibat analogi yang salah terhadap bentuk produktif dan produksi, kompetitif dan kompetisi, edukatif dan edukasi. Bentuk yang berakhiran dengan if biasanya berkelas kata sifat, sedangkan yang berakhiran si biasanya berkelas kata benda.

5.      Problema Akibat Perlakuan Kluster
Menurut Muslich, 2008: 137-138 menyatakan kluster atau konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata yang berkluster berasal dari unsur serapan. Apabila dibentuk dengan afiks yang bernasal misalnya {meN-(kan/i)} dan {peN-(an)} akan menimbulkan problema.
Sebagai contoh:
I      -     Memprogramkan
       -     Mentraktir
       -     Mentransfer
II    -     Memrogramkan
       -     Menraktir
        -    Menransfer
Apabila menurut system bahasa Indonesia, kita cenderung memilih deretan ke II. Tetapi terdapat beberapa kelemahannya, antara lain:
a)      Bentuk serapan di atas berbeda sifatnya dengan bentuk dasar bahasa Indonesia asli, yaitu konsonan rangkap dan tidak (walaupun keduanya berawal dengan k, p, t, dan s)
b)      Apabila diluluhkan, kemungkinan besar akan menyulitkan penelusuran kembali bentuk aslinya.
c)      Ada beberapa bentuk yang dapat menimbulkan kesalahpahaman arti. 
6.      Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan
Menurut Muslich, 2008: 138-139 menyatakan masalah ini ada kesamaan dengan masalah sebelumnya, yaitu berkenaan dengan perlakuan unsure asing. Hanya saja yang menjadi tekanan di sini adalah proses morfologisnya. Misalnya menterjemahkan dan menerjemahkan.
Pada dasarnya bentuk serapan dapat dikelompokkan menjadi dua:
a.       Bentuk serapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa Indonesia sehingga sudah tidak terasa lagi keasingannya
b.      Bentuk serapan yang masih baru sehingga masih terasa keasingannya
Bentuk serapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti system bahasa Indonesia, sedangkan kelompok dua tidak. Dapat diketahui bentuk kata terjemah merupakan kelompok pertama sehingga apabila bentuk terjemah digabungkan dengan {meN-kan} akan menjadi menerjemahkan karena fon [t] yang mengawali bentuk dasar akan luluh.
7.      Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk
Menurut Muslich, 2008: 139-140 menyatakan Problema ini terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban dan pertanggungan jawab. Pendapat pertama menganggap unsure-unsur bentuk tanggung jawab padu sehingga tidak mungkin disisipi bentuk lain diantaranya. Sedangkan pendapat kedua menganggap unsur-unsur bentuk tanggung jawab renggang sehingga memungkinkan disisipi bentuk lain diantaranya



Daftar Pustaka
Muslich, Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.



BAB XII Perubahan Bentuk Kata




BAB XII 

Perubahan bentuk kata

Menurut Muslich, 2008: 101 perubahan-perubahan bentuk kata dalam bahasa sangat lazim disebut sebagai gejala bahasa. Dalam bukunya Chaer (2015), Badudu (1981: 47) pada bukunya yang berjudul Pelik-Pelik Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa gejala bahasa ialah “peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya”.
Menurut Muslich, 2008: 101 adapun macam-macam gejala bahasa, yakni sebagai berikut.
1.      Analogi
Menurut uslich, 2008: 101 analogi merupakan salah satu cara pembentukan kata baru. Dalam suatu Bahasa, yang disebut analogi adalah suatu bentukan Bahasa dengan meniru contoh yang sudah ada. Dalam suatu Bahasa yang sedang tumbuh dan berkembang, pembentukan kata-kata baru (analogi) sangat penting sebeb bentukan kata baru dapat memperkaya perbendaharaan Bahasa.
Kita sering mendengar ataupun membaca kata-kata seperti dewa-dewi, putra-putri. Kedua kata itu terdapat perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Fonem /a/ dan /i/ mempunyai fungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Menyatakan laki-laki
Menyatakan perempuan
Saudara         /a/
Pemuda        /a/
Siswa           /a/
Mahasiswa  /a/
Saudari        /i/
Pemudi       /i/
Siswi          /i/
Mahasiswi  /i/
                                                                                    (Muslich, 2008:102)
Disamping bentukan-bentukan baru yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat pula bentukan yang dibentuk dari kata-kata asli, misalnya: sosialisme, sosialis, dan hedonism.

2.      Adaptasi
Menurur Muslich, 2008: 102 dalam perkembangannya, bahasa Indonesia selalu dipengaruhi oleh adanya bahasa asing dan Bahasa daerah. Dari pengaruh itu Bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah untuk melengkapi perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari Bahasa asing selalu mengalami penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang dimasukinya,dan struktur bahasanya. Oleh sebab itu, yang disebut adaptasi adalah perubahan bunyi dan struktur Bahasa asing menjadi bunyi dan struktur yang sesuai dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang diamsukinya.

Menurut Muslich, 2008: 102 menyatakan adaptasi atau penyesuaian dibedakan menjadi dua, yakni:
1)      Adaptasi fonologis, adalah penyesuaian perubahan bunyi Bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang dimasukinya.
Misalnya:
o   Kata dhahir (Arab) menjadi lahir.
o   Kata kraton (Jawa) menjadi keraton.
o   Vooloper (Belanda) menjadi pelopor
Kata dhahir merupakan bahasa asing dari bahasa Arab dan lahir merupakan bahasa yang dimasukinya.
2)      Adaptasi morfologis, adalah penyesuaian struktur bentuk kata.
Misalnya:
o   Kata prahara (Sanskerta) menjadi perkara.
o   Parameswari (Sansekerta) menjadi permaisuri.
o   Schildwacht (Belanda) menjadi sekilwak.
Kata prahara merupakan bahasa asing dari bahasa Sanskerta dan perkara merupakan bahasa yang dimasukinya.
3.      Kontaminasi
Menurut Muslich, 2008: 103 menyatakan kontaminasi dapat diartikan sebagai kerancuan. Rancu berarti campur aduk atau kacau. Pencapuradukan dua unsur bahasa yang tidak wajar, dapat berupa pencapuran antara kata, frasa, imbuhan, atau kalimat.
Misalnya pada kata dinasionalisirkan, dipublisirkan.
Terdapat kerancuan pada akhiran kata tersebut. Baik akhiran {-ir} (Belanda) maupun akhiran {-kan} memiliki fungsi yang sama yaitu membentuk kata kerja. Dinasionalisirkan berasal dari tumpang tindih dua kata dinasionalisir dan dinasionalisasikan. Peristiwa tersebut dinamakan kontaminasi bentukan kata.
4.      Hiperkorek
Muslich, 2008: 104 menyatakan hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul lalu malah menjadi salah. Maksudnya, sesuatu yang sudah betul dibetulkan lagi, yang akhirnya malah menjadi salah, setidaknya dianggap bentuk yang tidak baku.
 Misalnya:
o   Fonem /s/ menjadi /sy/;
-          Insaf menjadi insyaf
-          Saraf menjadi syaraf
o   Fonem /p/ menjadi /f/;
-          Pasal menjadi fasal
-          Paham menjadi faham
5.      Varian
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vokal /a/ pada sufiks –kan menjadi /e/.
Misalnya:
o    Diambilkan menjadi diambilken
o    Membacakan menjadi membacaken
6.      Asimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama.
Misalnya:
o   Alsalam > assalam > asalam
o   Mertua > mentua
7.      Disimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan disimilasi merupakan proses berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama.
Misalnya:
o   Citta (Sanskerta) menjadi cipta
o   Rapport (Belanda) menjadi lapor
8.      Adisi
Menurut Muslich, 2008: 106 menyatakan adisi merupakan perubahan yang terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dapat dibedakan menjadi tiga:
1)      Protesis, yaitu proses penambahan fonem pada awal kata.
o   Lang menjadi elang
o   Mas menjadi emas
2)      Epentesis, yaitu proses penambahan fonem di tengah kata.
o   Racana menjadi rencana
o   Kapak menjadi kampak
3)      Paragog, proses penambahan fonem pada akhir kata.
o   Lamp menjadi lampu
o   Adi menjadi adik
9.      Reduksi
Menurut Muslich, 2008: 106-107 menyatakan reduksi merupakan peristiwa pengurangan fonem dalam satu kata. Gejala reduksi dapat dibedakan menjadi tiga:
1)      Aferesia, yaitu proses penghilangan fonem pada awal kata.
o   Telentang menjadi tentang
o   Tetapi menjadi tapi
2)      Sinkop, yaitu proses penghilangan fonem pada tengah kata.
o   Sahaya menjadi saya
o   Bahasa menjadi base
3)      Apokop, yaitu proses penghilangan fonem pada akhir kata.
o   Pelangit menjadi pelangi
o   Import menjadi impor
10.  Metatesis
Menurut Muslich, 2008: 107 menyatakan metatesis merupakan perubahan kata yang terjadi karena fonem-fonemnya bertukar tempat. Misalnya:
o   Almari menjadi lemari
o   Lebat menjadi tebal
11.  Diftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 107 menyatakan diftongisasi merupakan proses perubahan suatu monoftong menjadi diftong. Misalnya:
o   Sodara menjadi saudara
o   Pulo menjadi pulau
12.  Monoftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan monoftongisasi merupakan proses perubahan suatu diftong menjadi monoftong. Misalnya:
o   Bakau menjadi bako
o   Tunai menjadi tune
13.  Anaptiksis
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan anaptiksis merupakan proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya. Misalnya:
o   Putra menjadi putera
o   Srigala menjadi serigala
14.  Haplologi
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan haplologi merupakan proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Misalnya:
o   Budhidaya menjadi budaya
o   Mahardhika menjadi merdeka



Daftar Pustaka
Muslich, Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.



BAB XI Fungsi morfem imbuhan, fungsi morfem ulang dan fungsi morfem konstruksi majemuk


BAB XI 


Fungsi morfem imbuhan, fungsi morfem ulang, dan fungsi morfem konstruksi 
majemuk
    v Fungsi morfem imbuhan
Menurut Muslich, 2008: 94-97 dalam pembicaraan morfologi, fungsi fonem adalah kemampuan morfem untuk membentuk kelas-kelas kata tertentu. Dalam bahasa Indonesia, ada morfem-morfem yang dapat membentuk kelas kata baru.
Hal tersebut dapat terjadi karena adanya beberapa proses seperti di bawah ini:
       1.      Fungsi Morfem Imbuhan (Afiks)   
Menurut Muslich, 2008: 95 dalam hal ini fungsi afiks atau imbuhan dibagi menjadi 3, yaitu:
a.       Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata benda
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata benda ialah {peN-}, {per-}, {pe-}, {-an}, {-wan}, {ke-an}, {peN-an}, {per-an}, {-el-}.
Contoh :
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata
peN-
Tulis   (Kerja)
Penulis   (Benda)
per-
Tapa   (Kerja)
Pertapa   (Benda)
-an
Makan   (Kerja)
Makanan   (Benda)
wan-
Olahraga   (Kerja)
Olahragawan   (Benda)
per-an
Atur    (Kerja)
Peraturan    (Benda)
peN-an
Beri    (Kerja)
Pemberian   (Benda)
ke-an
Abadi   (Sifat)
Keabadian    (Benda)
(Muslich, 2008: 95)                                              

b.      Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata kerja
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata kerja ialah {meN-}, {ber-}, {di-}, {ter-}, {meN-kan}, {meN-i}, {di-kan}, {di-i}. {ter-kan}, dan {ke-an}.
Contoh:
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata
ber-
Layar    (Benda)
Berlayar    (Kerja)
meN-
Putih   (Sifat)
Memutih   (Kerja)
ter-
Gunting  (Benda)
Tergunting   (Kerja)
ter-i
Ludah    (Benda)
Terludahi   (Kerja)
di-kan
Besar   (Sifat)
Dibesarkan   (Kerja)
di-
Gunting   (Benda)
Digunting    (Kerja)
meN-kan
Tinggi   (Sifat)
Meninggikan    (Kerja)
(Muslich, 2008: 96)                                               
  
c.       Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata sifat
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata sifat ialah {meN-}, {ber-}, {ter-}, {peN-}, {ke-an}, {-em-}.
Contoh:
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata
ber-
Satu    (Benda)
Bersatu    (Sifat)
meN-
Kantuk    (Benda)
Mengantuk    (Sifat)
-em-
Getar    (Benda)
Gemetar    (Sifat)
ter-
Ikat   (Kerja)
Terikat   (Sifat)
peN-
Malu   (Sifat)
Pemalu   (Sifat)
ke-an
Girang   (Sifat)
Kegirangan (Sifat)
 (Muslich, 2008: 97)                                            

    v Fungsi morfem ulang

Menurut Muslich, 2008: 97 fungsi morfem ulang dibagi menjadi dua, yakni:
1.      Morfem ulang sebagai pembentukan kata benda.
Bentuk yang akan dibendakan bisa disebut mengalami proses nominalisasi lazimnya berkelas kata kerja, terutama kata kerja yang sudah berafiks.
Bentuk dasar
Kelas kata
Bentuk ulang
Kelas kata
Menjahit
Berbaris
Menulis
Memotret
Berhias
Kata kerja
Kata kerja
Kata kerja
Kata kerja
Kata kerja
Jehit-menjahit
Baris-berbaris
Tulis-menulis
Potret-memotret
Hias-berhias
Kata benda
Kata benda
Kata benda
Kata benda
Kata benda
                                                                        (Muslich, 2008: 98)
2.      Morfe ulang sebagai pembentukan kata tugas/sarana
Dalam tuturan anaknya cantic-cantik dan gurunya galak-galak, cantic-cantik, dan galak-galak tetap berkelas kata sifat seperti bentuk dasarnya, yaitu cantic dan galak. Tetapi, dalam contoh dibawah ini, persoalannya lain:
Bentuk dasar
Kelas kata
Bentuk ulang
Kelas kata
Cepat
Jauh
Masak (buah)
Jelas
Mula ‘awal’
Benar
sampai
Kata sifat
Kata sifat
Kata sifat
Kata sifat
Kata benda
Kata sifat
Kata kerja
Cepat-cepat dengan cepat
Jauh-jauh ‘sampai jauh’
Masak-masak (pikir)
Jelas-jelas ‘pasti’
Mula-mula ‘pada awalnya’
Benar-benar
Sampai-sampai

Kata tugas
Kata tugas
Kata tugas
Kata tugas
Kata tugas
Kata tugas
Kata tugas
                                                      (Muslich, 2008: 98)

    v Fungsi morfem konstruksi majemuk
Menurut Muslich, 2008: 99 kata tanah adalah kata benda, kata air juga kata benda. Bentuk majemuknya, tanah air adalah juga berkelas kata benda. Contoh serupa adalah darah daging, suami istri, anak cucu, kutu bubu, rem angina, doa restu, dan lain-lain.
Contoh:
Kata Dasar + Kata dasar
Komposisi
Darah (N)
Daging (N)
Darah daging (Kt. Benda)
Suami (N)
Istri (N)
Suami istri  (Kt. Benda)
Anak (N)
Cucu (N)
Anak cucu (Kt. Benda)
Kambing (N)
Hitam (Adj)
Kambing hitam (Kt. Benda)
(Sumber tabel: Muslich, 2015: 98)                                                 

Dalam contoh kamibng hitam, unsur’kambing’ itu kata benda dan ‘hitam’ kata sifat. Setelah kedua unsur berpadu, kelas ‘kambing-lah’ yang menang, sebab ‘kambing hitam bersidat kata benda.
Bisa disimpulkan bahwa morfem dalam konstruksi majemuk bisa berubah kelas katanya. Perubahan itu diakibatkan oleh penggabungan unsur-unsurnya. Kelas kata bentuk majemuk, di samping bisa sama persis dengan kedua unsurnya, bisa pula sama dengan salah satu unsurnya, bahkan berbeda sama sekali dari unsur-unsurnya.       



Daftar Pustaka
Muslich, Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.


BAB XIII Problema morfologis dalam bahsa indonesia

BAB XIII Problema morfologis dalam Bahasa Indonesia Menurut Muslich, 2008: 131 pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbu...