Sabtu, 12 Januari 2019

BAB V Konsep Dasar Proses Morfologis




BAB V

KONSEP DASAR PROSES MORFOLOGIS
    A.    Pengertian
Menurut Chaer, 2015: 25 menyatakan proses morfologis pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalan proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi). Prosedur ini berbeda dengan analisis  morfologi yang mencerai-ceraikan kata (sebagai satuan sintaksis) menjadi bagian-bagian atau satuan-satuan yang lebih kecil.
  Contoh:
   P Mendengar , terdiri atas morfem {meN-} dan {dengar}

      B.     Ciri kata yang mengalami proses morfologis
Menurut Muslich, 2008: 33 menyatakan ciri-ciri kata yang mengalami proses morfologis adalah sebagai berikut:
1.      Berfungsi sebagai tempat penggabungan dan sebagai penggabung.
Contoh:
{tulis}{bangun}, {murid}, {gelap}
            berfungsi sebagai tempat penggabungan
{meN-}{peN-an}, {ulang}, {gulita}
berfungsi sebagai penggabung
2.      Bentuk dasar tidak selalu bermorfem tunggal, tetapi mungkin berupa morfem kompleks.
Contoh:
Belajar adalah bentuk dasar dari kata membelajarkan
Susah payah adalah bentuk dasar dari kata bersusah payah
Tidak adil adalah bentuk dasar dari kata ketidakadilan
3.      Dilihat dari wujudnya, bentuk dasar dapat berupa kelompok kata.
Contoh:
    PBentuk dasar dari kata menemukan, berjuang, perhubungan adalah pokok kata temu, juang, hubung
    P Bentuk dasar dari kata mencangkul, perbaikan, disatukan  adalah kata cangkul, baik, satu
    PBentuk dasar dari kata mengesampingkan, ketidakmampuan, dikemukakan adalah kata ke samping, tidak mampu, ke muka.
4.      Penggabungan atau perpaduan morfem mengalami perubahan arti.
Contoh:
    PBentuk dasar cangkul digabung dengan morfem {meN-} menjadi mencangkul= artinya menjadi melakukan pekerjaan dengan menggunakan alat cangkul.
    PBentuk dasar juang digabung dengan morfem {ber-} menjadi berjuang = artinya menjadi melakukan tindakan juang.
     
5.      Perpaduan bentuk dasar dan afiks.
Contoh:
{meN-} menjadi {mem-}. Penyesuaian ini didasari atas sifat bunyi awal bentuk dasarnya. Karena bentuk dasar bantu adalah bilabial (bunyi bibir), bunyi akhir afiks {meN-} juga menyesuaikan diri menjadi bunyi nasal bilabial sehingga menjadi mem-.

     C.     Macam-macam proses morfologis
Menurut Muslich, 2010. Macam-macam proses morfologis sebagai berikut:
1.      Kata berimbuhan (morfem afiks)
Contoh:
    PMorfem imbuhan {meN-} misalnya kata: menulis, memakan
    PMorfem imbuhan {ber-} misalnya kata : berdasi, berjuang
    PMorfem imbuhan {peN-an}misalnya kata: pembangunan
2.  Kata ulang
 Contoh :
    PMurid-murid terbentuk dari bentuk kata murid dengan morfem {ulang}
    PMencari-cari terbentuk dari bentuk kata mencari dengan morfem {ulang}]
    PMemukul-mukul terbentuk dari bentuk kata memukul dengan morfem {ulang}
3.      Kata majemuk
Contoh:
    PMeja hijau terbentuk dari kata meja dan hijau
    PTempat gelap terbentuk dari kata tempat dan gelap
    PMata kaki terbentuk dari kata mata dan kaki

      D.    Makna gramatikal
Menurut (Chaer, 2015: 29) menyatakan berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru muncul dalam proses gramatika, baik proses morfologi maupun proses sintaksis. Umpamanya, dalam proses prefiksasi ber- pada dasar dasi muncul makna gramatikal “memakai dasi”.
Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakan makna atau bentuk dasarnya, misalnya berkuda makna gramatikalnya “mengendarai kuda”, dan bentuk berdiskusi makna gramatikalnya “melakukan diskusi”.

     E.     Hasil proses pembentukan
Menurut (Chaer, 2015: 28) menyatakan proses morfologi atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu, bentuk dan makna gramatikal. Keduanya merupakan hal yang berkaitan erat. Bentuk merupakan wujud fisiknya dan makna gramatikal merupan isi dari wujud fisik atau bentuk itu.
Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata berafiks, yang disebut kata berimbuhan, kata turunan, atau kata terbitan. Wujud fisik dari proses reduplikasi adalah kata ulang atau disebut juga bentuk ulang. Wujud fisik dari hasil proses komposisi adalah kata gabung, disebut juga gabungan kata, kelompok kata atau kata majemuk.

     F.      Pembentukan kata diluar proses morfologis
Menurut Muslich, 2008: 36 menyatakan masih ada pembentukan kata-kata baru dengan proses lain. Proses tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Akronim
Menurut Muslich, 2008: 36 menyatakan  akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Misalnya akronim dalam bahasa jawa yang sering kita gunakan adalah paklik  yang artinya adalah “bapak cilik”, bangjo yang artinya adalah “abang ijo”. Sedangkan dalam bahasa Indonesia ada banyak akronim, seperti:
    P Pusdiklat kepanjangan dari (pusat pendidikan dan pelatihan)
    P Bimas kepanjangan dari (bimbingan masyarakat)
    PMenpora kepanjangan dari (menteri pemuda dan olahraga)
2.      Abreviasi
Muslich, 2008: 36-37 menyatakan abreviasi adalah apa yang sehari-hari disebut “singkatan” (Sudaryanto, 1983). Misalnya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), HMP (Himpunan Mahasiswa Prodi)
3.      Abreviakronim
Muslich, 2008: 37 menyatakan Abreviakronim adalah gabungan antara akronim dengan abreviasi. Misalnya polri kepanjangan dari (Polisi Republik Indonesi), pemilu kepanjangan dari (Pemilihan Umum).
4.      Kontraksi
Muslich, 2008: 36 menyatakan Kontraksi atau pengerutan, misalnya begitu (bagai itu), begini (bagai ini) (Sudaryanto, 1983). Ada juga dijumpai dalam bahasa jawa, misalnya ning (nanging), mau kae (mengke) (Brandsetter, 1957)
5.      Kliping
Muslich, 2008: 36 menyatakan kliping adalah pengambilan suku khusus dalam kata yang selanjutnya dianggap sebagai kata baru (Samsuri, 1988). Misalnya influenza menjadi flu, professional menjadi prof.
6.      Afiksasi pungutan
Muslich, 2008: 337 menyatakan, misalnya {anti-} menjadi (antikomunis, antikekerasan), {non-} menjadi (nonformal, non-pemerintah), {antar-} menjadi (antardaerah, antar siswa), {swa-} menjadi (swasembada, swadaya, swalayan).





DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Masnur, Muslich. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB XIII Problema morfologis dalam bahsa indonesia

BAB XIII Problema morfologis dalam Bahasa Indonesia Menurut Muslich, 2008: 131 pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbu...