Sabtu, 12 Januari 2019

BAB IV Jenis Morfem


BAB IV

Jenis morfem Bahasa Indonesia

      A.   Jenis Morfem Berdasarkan Kemampuan Berdistribusi
Menurut Muslich, 2008: 16 meyatakan Bentuk bebas yaitu bentuk-bentuk yang dapat dipakai secara tersendiri dalam kalimat atau tuturan. Contohnya:
Bentuk terikat yaitu bentuk-bentuk linguistik yang berkondisi tidak dapat berdiri sendiri itu biasanya. Contohnya antara bentuk urus-  dan  –an pada kalimat selalu urusan bisinis tidak dapat disisipi bentuk lain apapun.
 Bentuk semi bebas yaitu bentuk yang masih mempunyai kebebasan.
 Bentuk unik yaitu bentuk yang sangat terikat. Contohnya kata balau pada  kalimat kacau balau begini.
Dalam bahasa indonesia, bentuk-bentuk yang berkondisi terakhir ini ternyata masih dapat juga di kelompok-kelompokkan lagi. Kita ambil contoh misalnya bentuk dari urus, dan –an diatas. Ketiga bentuk itu sama-sama tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, namun satu dengan yang lain mempunyai perbedaan. Bentuk dari dalam kalimat dari mana kamu dapat terpisah dengan unsur yang mengikutinya. Hal itu terbukti dapatnya disisipi bentuk lain, misalnya arah, diantara bentuk dari dan mana sehingga menjadi dari arah mana kamu? Kondisi itu dapat terdapat pada bentuk urus- dan –an.
 Antara bentuk urus- dan –an pada kalimat selalu urusan bisnis tidak dapat disisipi bentuk lain jenis apapun. Kedua bentuk terakhir ini benar- benar tidak dapat berdiri sendiri, baik dalam kedudukannya sebagai kalimat maupun sebagai kata yang menjadi unsur pembentuk kalimat. Bentuk- bentuk linguistik yang berkondisi seperti itu biasanya disebut sebagai bentuk terikat ( bound form atau bound morpheme) sedangkan bentuk yang masih mempunyai kebebasan, sebagaimana bentuk dari dikatakan sebagai bentuk semi bebas (semi-free form atau semi free morpheme).
Pada kalimat terakhir kutipan dialog diatas, terdapat bentuk yang mempunyai kemampuan lebih terikat jika di bandingkan dengan bentuk lainnya. Bentuk balau pada kalimat Modelnya kacau balau begini dari kuliah. Selalu muncul bersama-sama dengan kacau. Akan tetapi, bentuk kacau dapat digunakan tanpa bentuk balau. Selain itu, bentuk balau tidak pernah berdistribusi bersama-sama dengan bentuk lain selain bentuk kacau. keadaan itu tidak dimiliki oleh bentuk kacau yang masih dapat berdistribusi bersama-sama dengan bentuk selain bentuk balau, misalnya pengacau, sangat kacau, sedang kacau, dan masih banyak lagi. Bentuk yang sangat terikat itu, sebagaimana bentuk balau, disebut Bentuk unik atau unique form atau unique morpheme. (Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta:Bumi Aksara).

     B.   Jenis Morfem Berdasarkan Produktivitasnya
Menurut Muslich, 2008: 18 menyatakan,  morfem Afiks produktif  yaitu afiks yang terus menerus mampu membentuk kata-kata baru.
Afiks tak produktif yang sudah tidak mampu lagi membentuk kata-kata baru.
·                     Misalnya morfem afiks {ke-an} dapat membentuk kata baru : keterlaluan,keadilan,dll. Kondisi yang sama dialami Afiks {-em-},{-el-},dan {-er-} pada kata gemetar, telunjuk, dan gerigi.
                      Kata Samsuri dalam morfologi dan Pembentukan kata(1988:18) bahwa ketiga afiks itu hanya mampu berproduksi saat dalam bahasa melayu dahulu,tetapi dalam bahasa Indonesia sekarang sama sekali tidak produktif.  Afiks produktif (productive affix) adalah morfem afiks yang terus menerus mampu membentuk kata-kata baru. Afiks tak produktif (unproductive affix) adalah morfem afiks yang sudah tidak mampu lagi membentuk kata-kata baru disebut afiks tak produktif (unproductive affix).

      C.   Jenis Morfem Berdasarkan Relasi Antar Unsurnya
Morfem utuh adalah morfem yang deretan fonemnya tidak terpisahkan. Morfem terbelah adalah morfem yang terpisah dalam pemakaiannya, seperti {ke-an}.Jenis morfem ini sering ditafsirkan orang, karena dikira bahwa morfem itu merupakan gabungan dari dua morfem. Anggapan tersebut tidak diakui karena morfem {ke-an} jelas membentuk satu kesatuan arti yang sama sekali berbeda dengan bagiannya.
Menurut Muslich, 2008: 19 menyatakan morfem-morfem segmental dalam bahasa Indonesia, ada yang unsur-unsurnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pemakaiannya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Sebagai contoh, kita ambil kalimat kesuksesan selalu didambakan setiap manusia yang ingin maju. Kalimat itu terdiri atas delapan kata. Masing-masingnya, ada yang terdiri atas satu morfem, yaitu {selalu}, {manusia}, {yang}, {ingin}, {maju}; ada yang terdiri atas dua morfem, yaitu kesuksesan, setiap; dan, ada yang terdiri atas tiga morfem , yaitu didambakan.
Kata kesuksesan terdiri atas morfem {sukses} dan {ke-an}; kata setiap terdiri atas morfem {tiap} dan {se-}; dan, kata didambakan terdiri atas morfem {damba}, {di-}, dan {-kan}. Dalam pemakaiannya, unsur-unsur (dalam hal ini berupa fonem-fonem) yang membentuk morfem {selalu}, {manusia},{yang}, {ingin}, {maju}, {sukses}, {damba}, {se-}, {di-}, dan {-kan} merupakan deretan fonem yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Morfem yang deretan fonemnya tidak terpisah disebut morfem utuh. Akan tetapi, tidak demikian morfem (ke-an). Unsur-unsurnya terbelah dua dalam pemakaiannya, yaitu dua fonem pertama (/k/dan/e/) diletakkan di muka atau sebelum bentuk dasar (dalam hal ini morfem {sukses}), sedangkan dua fonem lainnya (yaitu /a/ dan /n/) diletakkan di belakang atau sesudah bentuk dasar. Morfem yang terpisah dalam pemakaiannya, seperti {ke-an} dinamakan morfem terbelah.

       D.    Jenis Morfem Berdasarkan Sumbernya
Menurut Muslich, 2008:20 menyatakan berdasarkan sumbernya, morfem bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas morfem yang berasal dari bahasa Indonesia asli, morfem yang berasal dari bahasa daerah yang berada di wilayah Indonesia, dan morfem yang berasal dari bahasa asing. Morfem-morfem yang berupa morfem bebas dan morfem dasar tidak dibicarakan disini sebab merupakann wilayah leksiologi. Morfem afiks yang berasal dari bahasa asli dapat digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu prefiks, infiks, sufiks, konfiks.
Apabila morfem afiks yang berasal dari bahasa Indonesia asli hanya mempunyai arti gramatikal saja (dan tidak mempunyai arti leksikal), maka afiks asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia pun harus demikian. Dilihat dari distribusinya, apabila afiks {peN-an} misalnya, mampu melekat pada bentuk dasar dari bahasa Indonesia asli dan bentuk dasar serapan, maka afiks asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia pun relatif harus mempunyai kemampuan demikian. Bentuk {-is} dalam Pancasilais dan {-isais} dalam turinisasi menunjukkan bahwa afiks asing itu telah menjadi keluarga bahasa Indonesia sebab afiks asing itu telah mampu melekat pada bentuk dasar bahasa Indonesia asli.


      E.   Jenis Morfem yang Berdasarkan Jumlah Fonem yang Menjadi Unsurnya.
Menurut Muslich, 2008: 21 menyatakan morfem dalam bahasa Indonesia apabila ditinjau dari jumlahnya ada yang berunsur satu fonem, tetapi ada juga yang berunsur lebih dari satu fonem.
·         Monofonemis adalah morfem yang berunsur lebih dari satu fonem, misalnya morfem {-i} dalam melempari dan {a-} dalam asusila.
·         Polifonemis adalah morfem yang berunsur lebih dari satu fonem disebut Polifonemis, memiliki contoh sebagai berikut {-an}, {di-}, {ke-} (dua fonem); {ber-}, {meN-}. {dua}, {itu}, {api}, (tiga fonem); {satu}, {baik}, {daki}, (empat fonem); {serta}, {makin}, {lampu} (lima fonem); {lemari}, {saring}, {bentul} (enam fonem); {cokelat}, {benterok} (tujuh fonem); {semboyan}, {kerontang} (delapan fonem); {sederhana}, {penasaran}, {selenggara} (Sembilan fonem); {halilintar}, {malapetaka} (sepuluh fonem); {semenanjung} (sebelas fonem) (Muslich,2010: 21).
Secara konkret, morfem yang monofonemis itu hanya berada dalam morfem afiks, sedangkan morfem-morfem yang berjenis lain belum ada yang monofonemis. Morfem yang polifonemis ini berbanding terbalik dengan morfem yang monofonemis, morfem yang polifonemis ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan morfem yang monofonemis dalam pengggunaannya di dalam bahasa Indonesia.
Sebagai contoh lain bahwa morfem Monofonemis hanya terdiri dari satu fonem (a- dan i-) sedangkan morfem Polifonemis terdiri dari banyak fonem (-moral dan –legal) adalah dalam kata “amoral dan ilegal”, di contoh tersebut morfem Polifonemis “moral” mendapatkan imbuhan prefiks berupa morfem Monofonemis “a” dan menjadi sebuah bentuk kata amoral (a dan moral). Begitu juga dengan kata illegal yang terdiri dari gabungan antara morfem Monofonemis “i” dan Polifonemis  “legal” dan menjadi sebuah bentuk kata “ilegal”

   F.    Jenis Morfem Berdasarkan Keterbukaannya Bergabung dengan Morfem Lainnya.
Menurut Muslich, 2008: 22 menyatakan morfem-morfem bahasa Indonesia dalam pemakaiannya ada yang mempunyai kemungkinan bergabung dengan morfem lain dan ada yang tidak. Pada umumnya, morfem {meN-} dan {ber-} mengawali bentukan kata, misalnya kata menarik, mengerti ,dan berlaku. Di samping itu, kata-kata yang berawalan dengan {meN-} dan {ber-} masih membuka kemungkinan digabungi dengan morfem prefiks lainnya, dalam hal ini prefiks {di-}; sehingga ketiga kata di atas menjadi dimenarikkan,  dimengerti, dan diberlakukan. Selain itu, kata-kata yang berawalan dengan {per-} juga masih membuka kemungkinan digabungi dengan morfem prefiks lain,  dalam hal ini adalah {mem-}. Misalnya pada perbaiki menjadi memperbaiki, pelajar menjadi mempelajari, perdaya menjadi memperdaya, peroleh menjadi memperoleh. Begitu juga dengan kata-kata yang berawal dengan {ke-} juga masih membuka kemungkinan digabungi dengan morfem prefiks lain, dalam hal ini prefiks {ber-}. Misalnya kata keinginan menjadi berkeinginan, kemauan menjadi berkemauan, ketuhanan, menjadi berketuhanan. Di samping itu masih banyak lagi kata lain yang terdiri dari gabungan dua prefiks, seperti diperlihatkan.
Sifat terbuka yang terdapat pada morfem prefiks {meN-} dan {ber} di atas tidak terdapat pada morfem prefiks {di-}. Kata-kata yang berawal dengan morfem {di-} sudah tertutup dari kemungkinan untuk digabungi oleh morfem prefiks lainnya. Misalnya, kata dipukul, dilempar, dan dicabut tidak memliki kemungkinan untuk digabungi dengan prefiks lainnya baik berupa {meN-}, {ber-}, atau {ter-} (Muslich, 2010: 22).
Kata-kata benda yang dapat dipakai sebagai alat untuk melakukan sebuah pekerjaan, misalnya cangkul, palu, jarum, dan tongkat, mempunyai sifat keterbukaan yang sangat berbeda, misal dalam kasus cangkul dan palu, mereka berdua dapat di dibentuk menggunakan konstruksi yang lebih besar karena bisa ditambahi dengan imbuhan afiks {di-} dan {meN-} sehingga menjadi, dicangkul, mencangkul, dipalu, dan memalu. Sedangkan untuk jarum dan tongkat, maka kasusnya berbeda, kedua kata benda tersebut tidak dapat dibubuhi dengan imbuhan morfem afiks baik {di-} atau {meN-}, Karena untuk mendapatkan istilah penggunaan jarum sebagai alat untuk bekerja dan melakukan pekerjaan menggunakan alat yang berupa tongkat tidak ada penutur bahasa Indonesia yang menggunakan “menjarum” dan “menongkat”. Konsep ituhanya dapat menggunakan bentuk urai, misalnya menjahit dengan jarum dan memukul dengan tongkat .Oleh sebab itu,  bentuk cangkul dan palu dikatakan sebagai bentuk terbuka. Sedangkan jarum dan tongkat dikatakan sebagai bentuk tertutup.

G.  Jenis Morfem Berdasarkan Bermakna Tidaknya.
Menurut Muslich, 2008: 23-24 menyatakan morfem bisa dikelompokkan kedalam dua kelompok, yaitu kelompok yang bermakna dan kelompok yang tidak bermakna. Morfem kelompok bermakna sesuai dengan namanya selalu bermakna, oleh karena itu bisa dicari dalam kamus-kamus umum. Contohnya lapar, lapor, kuda, merah, genit, dan lain-lain. Karena morfem langsung bermakna, dan maknanya bisa diperiksa dalam kamus, ia bisa juga disebut morfem leksikal. Morfem kelompok tidak bermakna seperti bisa anda tebak memang tidak punya makna (sendiri). Contoh {Ter-}, {di-}, {peN-}, {se-}, {-i}, {-an}, {-el}, dan lain-lain. Kelompok kedua ini baru diketahui maknanya bila sudah berada dalam konstruksi yang lebih besar, atau dikatakan lebih melekat pada bentuk-bentuk dasar, bentuk dari kelompok pertama. Karena itulah, morfem-morfem ini disebut morfem gramatikal. Sebagai contoh, taruhlah morfem {ter-} dalam kontruksi kata terdakwa misalnya, ter- bermakna’yang di-…’, sedangkan ketika berada dalam kontruksi kata tertipu ‘dapat di-…’, lain lagi saat melekat pada konstruksi terinjak, ia bermakna ‘tak sengaja di-…’
            Seperti bisa dilihat, semua morfem yang selama ini kita sebut sebagai imbuhan (awalan, akhiran, sisipan, dan konfiks) termasuk anggota kelompok morfem gramatikal.
Dikotonomi morfem bermakna leksikal dan tidak bermakna leksikal ini, untuk bahasa Indoesia timbul sebuah masalah. Morfem-moerfem seperti {juang}, {henti}, dan {gaul} memiliki makna leksikal atau tidak. Kalau dikatakan memiliki makna leksikal, pada kenyataannya morfem-morfem itu belum bisa digunakan sebagai pertuturan sebelum mengalami proses morfologi. Kalau dikatakan tidak bermakna leksikal, pada kenyataannya morfem-morfem tersebut bukanlah afiks.
Menurut Chaer, (2015: 21) ada satu masalah lagi berkenaan dengan morfem bermakna leksikal ini, yaitu morfem –morfem yan berkategori gramatikal sebagai preporsisi dan konjungsi.Banyak pakar (seperti Keraf 1986 dan Parera1988) yang menyatakan bahwa kelas-kelas preposisi dan konjungsi tidak memiliki makna leksikal, dan hanya mempunyai fungsi gramatikal.Sebenarnya sebagai morfem dasar, dan buka afiks, semua morfem preposisi dan konjungsi memiliki makna makna leksikal.Namun, kebebasannya dalam pertuturan memang terbatas.Meskipun keterbatasannya tidak seketat morfem afiks.Dalam morfologi morfem-morfem yang termasuk preposisi dan konjungsi memiliki kebebasan seperti morfem bebas lainnya; hanya secara sintaksis keduanya terikat pada satuan sintaksisnya.



Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta:Bumi Aksara




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB XIII Problema morfologis dalam bahsa indonesia

BAB XIII Problema morfologis dalam Bahasa Indonesia Menurut Muslich, 2008: 131 pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbu...