BAB I
Konsep
Dasar Bentuk Linguistik, Hakikat Morfologi, dan Objek Kajian Morfologi
Konsep
dasar bentuk linguistik
Wacana
|
Sintaksis
|
Morfologi
|
Fonologi
|
(Chaer,
2015: 4)
Wacana
adalah satuan bahasa terbesar atau tertinggi, yang berisi satu satuan ujaran
yang lengkap dan utuh, dan dibangun oleh kalimat atau kalimat-kalimat yang
dihubungkan secara kohesi dan koherensi (Kridalaksana, 1997).
Sintaksis
adalah
ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam Bahasa alami.
Morfologi
atau
ilmu bentuk kata adalah cabang linguistic yang mengidentifikasi satuan-satuan
dasar Bahasa sebagai satuan gramatikal.
Fonologi
adalah kajian Bahasa yang memepelajari tentang bunyi-bunyi
Bahasa yang di produksi oleh alat ucap manusia.
Menurut
Chaer, 2015: 4 menyatakan keterkaitan morfologi dengan fonologi jelas dengan
adanya kajian yang disebut morfofonologi atau
morfofonemik yaitu ilmu yang mengkaji
terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi. Seperti munculnya
fonem /y/ pada dasar hari bila diberi sufiks –an
hari + an =
[hariyan]
Menurut
Chaer, 2015: 4 menyatakan keterkaitan morfologi dan sintaksis tampak dengan
adanya kajian yang disebut morfosintaksis. Keterkaita ini karena
adanya masalah morfologi yang perlu dibicarakan bersama dengan masalah
sintaksis. Misalnya, kata, dalam
kajian morfologi merupakan satuan terbesar, sedangkan dalam sintaksis merupakan
satuan terkecil. Dalam bagan berikut dapat dilihat kedudukan keseluruhan objek
kajian lingustik.
Wacana
|
Kalimat
|
Klausa
|
Frasa
|
Kata
|
Morfem
|
Fonem
|
Fon
|
(Chaer,
2015: 5)
Keterangan singkat
Wacana adalah
satuan bahasa terbesar atau tertinggi, yang berisi satu satuan ujaran yang
lengkap dan utuh, dan dibangun oleh kalimat atau kalimat-kalimat yang
dihubungkan secara kohesi dan koherensi (Kridalaksana, 1997). (Chaer, 2015: 5)
Kalimat adalah
satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar (biasanya cerupa klausa),
dilengkapi dengan konjungsi (bila diperlukan), disertai dengan intonasi final
(Chaer, 2015: 5).
Klausa adalah
satuan sintaksis yang berinti adanya sebuh predikat dan adanya fungsi lainnya
(Chaer, 2015: 5).
Frasa adalah
satuan sintaksis berupa kelompok kata yang posisinya tidak melewati batas
fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek atau keterangan) (Chaer, 2015: 5).
Kata dalam
sintaksis menduduki fungsi (subjek, predikat, objek atau keterangan), dalam
morfologi merupakan satuan terbesar, dibentuk melalui salah satu proses
morfologi (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi)
(Chaer, 2015: 5).
Morfem adalah
satuan gramatikal terkecil yang bermakna (Chaer, 2015: 5).
Fonem adalah
satuan bunyi terkecil (dalam kajian fonologi) yang dapat membedakan makna kata
(Chaer, 2015: 6).
Fon adalah
satuan bunyi Bahasa yang dilihat tanpa memperhatikan statusnya sebagai pembeda
makna kata (Chaer, 2015: 6).
Daftar
Pustaka :
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONESIA (pendekatan proses). Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Hakikat
Morfologi
Menurut Chaer, 2015:
3-4 menyatakan secara etimologi kata morfologi
berasal dari kata morf yang
berarti ‘bentuk’ dan kata logi yang
berarti ‘ilmu’. Secara harifiah kata morfologi
berarti ‘ilmu mengenai bentuk’. Dalam kajian linguistic morfologi berarti ‘ilmu mengenai
bentuk-bentuk dan pembentukan kata’.
Morfologi membicarakan
masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, yakni :
·
morfem dengan segala bentuk dan
jenisnya,
·
pembicaraan mengenai komponen atau unsur
pembentukan kata, yaitu:
o
Morfem, baik morfem dasar maupun morfem
afiks, dengan berbagai alat proses pembentukan kata.
o
Afiks, afiks dalam proses pembentukan
kata melalui proses afiksasi.
o
Reduplikasi, atau pengulangan kata.
o
Komposisi, penggabungan dalam proses
pembentukan kata.
Jadi
hasil akhir dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalamsatu
tindak pertuturan.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONESIA (pendekatan proses). Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Objek
Kajian Morfologi
Menurut Chaer, 2015:
7-8 menyatakan objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi,
proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Satuan
morfologi adalah:
1)
Morfem (akar atau afiks)
2)
Kata
lalu,
proses morfologi melibatkan komponen:
1)
Dasar (bentuk dasar)
2)
Alat pembentuk (afiks, reduplikasi,
komposisi, akronimisasi, dan konversi)
3)
Makna gramatikal.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONEISA (pendekatan proses). Jakarta: PT Rineka
Cipta.
BAB II
Morfologi
dan ilmu kebahasaan lain
Menurut Chaer,
2015: 6-7 menyatakan sebagai ilmu yang mengambil salah satu bagian dari
kebahasaan, tentu saja morfologi mempunyai hubungan dengan ilmu kebahasaan lainnya:
1. Leksikologi
Morfologi ilmu tentang bentuk dan
pembentukan kata, sedangkan leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang
satuannya disebut leksem. Morfologi lebih mengarah pada masalah proses
pembentukan kata, sedangkan leksikologi lebih mengarah pada kata yang sudah
jadi.
2. Leksikografi
Leksikografi adalah kelanjutan kerja
dari leksikologi, dalam arti hasil kerja leksikologi dituliskan, maka proses
kerja penulisan itu adalah disebut leksikografi, dan hasilnya adalah sebuah
kamus. Dalam proses penyusunan kamus bidang morfologi memegang peran penting.
Sebagian besar proses penyusunan kamus “mengurusi” masalah bentuk dan
pembentukan kata.
3. Etimologi
Morfologi membicarakan proses
pembentukan kata yang berlaku secara umum sebagai suatu system berkaidah,
sedangkan etimologi membicarakan pembentukan atau terbentuknya kata atau asal
usul yang tidak berkaidah.
4. Filologi
Morfologi membicarakan proses pembentukan kata dari
sebuah dasar melaui salah satu proses morfologi sehingga terjadi kata.
Sedangkan filologi membicarakan kata yang terdapat dalam naskah kaitannya
dengan sejarah dan budaya.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONESIA (pendekatan proses). Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Unsur
(Konstruksi kata)
Kita
tahu bahwa suatu konstruksi kata ada yang terdiri atas satu morfem, dua morfem
dan tiga morfem. Kata satu misalnya terdiri atas satu morfem : bersatu, terdiri
dari atas dua morfem {ber-}dan satu, dan kata menyatukan terdiri atas
tiga morfem: {meN-}, satu, dan {-kan} dan kata memberlakukan terdiri atas mepat
morfem: {meN}, {ber-},laku, dan {kan}. Morfem yang menjadi unsure suatu
konstruksi kata disebut unsur atau constituent.
Penentuan
unsur suatu konstruksi kata yang terdiri atas satu atau dua morfem memang
sangat mudah sebab morfem itulah yang membentuk konstruksi itu misalnya
konstruksi kata satu, sepeda, bersatu, memakan,memaggil. Akan tetapi apabila
konstruksi itu terdiri atas lebih dari dua morfem perlu ada pemikiran lebih
lanjut. Morfem {ber-}, {peN-an}, dan didik tidk bersama-sama membentuk
konstruksi berpendidikan tetapi bertahap. Pertama {peN-an} bergabung dengan
didik untuk membentuk konstruksi pendidikan setelah itu {ber-} bergabung dengan
pendidikan untuk membentuk konstruksi berpendidikan. Dan dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa konstruksi berpendidikan termasuk dari dua tahap. (13)
Daftar
Pustaka
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT
Bumi Aksara
BAB III
Identifikasi
Morfem
Chaer, 2015: 13-15 menyatakan satuan Bahasa merupakan
komposit antara bentuk dan makna. Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem
atau bukan didasarkan pada kriteria bentuk dan makna. Hal-hal berikut dapat
dipedomi untuk menentukan morfem dan bukan morfem:
1.
Dua bentuk yang sama atau lebih memiliki
makna yang sama merupakan sebuah morfem.
·
Bulan
depan
dia akan menikah.
·
Sudah tiga bulan dia belum bayar uang SPP.
2.
Dua bentuk yang sama atau lebih memiliki
makna yang berbeda merupakan dua morfem yang berbeda.
·
Bank Indonesia memberi bunga 5 persen per tahun.
·
Dia datang membawa seikat bunga.
3.
Dua buah bentuk yang berbeda, tetapi
memiliki makna yang sama, merupakan dua morfem yang berbeda.
·
Ayah
pergi
ke Medan.
·
Bapak
baru pulang dari Medan.
4.
Bentuk-bentuk yang mirip (berbeda
sedikit) tetapi maknanya sama adalah sebuah morfem yang sama, asal perbedaan
bentuk itu dapat dijelaskan secara fonologis.
·
Melihat
·
Mengambil
·
Menyusul
5.
Bentuk yang hanya muncul dengan pasangan
satu-satunya adalah juga sebuah morfem.
·
Segar
bugar
·
Tua
renta
6.
Bentuk yang muncul berulang-ulang pada
satuan yang lebih besar apabila memiliki makna yang sama adalah juga merupakan
morfem yang sama.
·
Membaca
·
Pembaca
·
Bacaan
7.
Bentuk yang muncul berulang-ulang pada
satuan Bahasa yang lebih besar (klausa, kalimat) apabila maknanya berbeda
secara polisemi adalah juga merupakan morfem yang sama.
·
Ibunya menjadi kepala sekolah di sana.
·
Nomor teleponnya tertera pada kepala surat itu.
·
Kepala
jarum itu terbuat dari plastic.
a. Morf
Adalah
anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya. Misalnya /i/ pada kata
kenai adalah morf. Morf adalah wujud kongkret atau wujud fonemis dari morfem.
Misalnya: men- adalah wujud kongkret dari meN- yang bersifat abstrak
(Kridalaksana, 1993: 141).
b. Morfem
Adalah
satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna (Chaer,2015: 13). Morfem
sebenarnya merupakan barang abstrak karena ada dalam konsep (Chaer, 2015: 15).
Contoh: baca, makan, dan jalan.
c. Alomorf
Barang
konkret yang ada dalam pertuturan, yang tidak lain realisasi dari morfem itu.
Alomorf bersifat nyata/ada (Chaer, 2015: 15).
Contoh:
misalnya, morfem {ber-} memiliki tiga bentuk alomorf, ber-, be-, bel-.
d. Kata
Menurut
para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan Bahasa yang memiliki satu
pengertian, atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah
spasi, dan mempunyai satu arti. Para
tata bahasawan structural, terutama penganut aliran Bloomfield, tidak lagi
membicarakan kata sebagai satuan lingual, dan menggantinya dengan satuan yang
disebut morfem.
1. Pembentukan
kata: untuk dapat digunakan dalam suatu kalimat, maka setiap bentuk dasar,
terutama dalam Bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu
menjadi sebuah kata gramatikal melalui proses afiksasi, reduplikasi, maupun
komposisi.
2. Inflektif:
kata-kata dalam Bahasa berfleksi, seperti Bahasa Arab, Latin, dan Sansekerta.
3. Derivatif:
pembentuk kata secara inflektif tidak membentuk kata baru atau kata lain yang
berbeda identitasnya dengan bentuk dasarnya, sedangkan pembentukan kata secara
deviratif membentuk kata baru atau kata yang bentuk leksikalnya tidak sama
dengan bentuk dasarnya.
e. Jenis morfem
Menurut
Chaer,2015: 16-20 menyatakan:
1.
Berdasarkan kebebasannya.
·
Morfem bebas, adalah morfem yang tanpa
keterikatannya dengan morfem lain dapat langsung digunakan dalam pertuturan.
Misalnya: {pulang}, {merah}, dan {pergi}.
·
Morfem terikat, adalah morfem yang harus
terlebih dahulu bergabung dengan morfem lain untuk dapat digunakan dalam
pertuturan. Misalnya: {henti}, {juang}, dan {geletak}. Untuk dapat digunakan
ketiga morfem ini harus terlebih dahulu diberi afiks atau digabung dengan
morfem lain. Misalnya {juang} menjadi berjuang,
pejuang, dan daya juang.
2.
Berdasarkan keutuhan bentuknya dibedakan
adanya morfem utuh dan morfem terbagi.
·
Morfem utuh secara fisik merupakan
satu-kesatuan yang utuh. Semua morfem dasar, baik bebas maupun terikat, serta
prefiks, infiks, dan sufiks termasuk morfem utuh.
·
Morfem terbagi adalah morfem yang
fisiknya terbagi atau disisipi morfem lain. Semua konfiks (pe-an, ke-an, dan
per-an) adalah morfem terbagi.
3.
Berdasarkan kemungkinan menjadi dasar
dalam pembentukan kata:
·
Morfem dasar adalah morfem yang dapat
menjadi dasar dalam suatu proses morfologi, misalnya: {beli}, {makan}, dan {merah}.
·
Morfem afiks adalah morfem yang tidak
dapat menjadi dasar, melainkan hanya sebagai pembentuk, misalnya: {me}, {-kan},
dan {pe-an}
4.
Berdasarkan jenis fonem yang
membentuknya dibedakan adanya:
·
Morfem segmental adalah morfem yang
dibentuk oleh fonem-fonem segmental, yakni morfem yang berupa bunyi dan dapat
disegmentasikan. Misalnya: {lihat}, {ter-}, {sikat}, dan {–lah}.
·
Morfem suprasegmental adalah morfem yang
terbentuk dari nada, tekanan, durasi, dan intonasi.
5.
Berdasarkan kehadirannya secara konkret:
·
Morfem wujud adalah morfem yang secara
nyata ada.
·
Morfem tanwujud adalah morfem yang
secara nyata tidak ada.
6.
Berdasarkan ciri semantic:
· Morfem bermakna leksikal, didalam
dirinya secara inheren, telah memiliki makna. Semua morfem dasar bebas,
seperti: {makan}, {pulang}, dan {pergi}.
· Morfem tak bermakna leksikal, morfem
afiks {ber-},{ ke-}, dan {ter-}.
f. Morfem dasar, bentuk dasar,
pangkal, akar leksem
·
Morfem dasar biasanya digunakan sebagai
dikotomi dengan morfem afiks. Jadi, bentuk-bentuk seperti {beli}, {juang}, dan {kucing}
adalah morfem dasar.
·
Bentuk dasar ini dapat berupa morfem
tunggal tetapi dapat juga berupa gabungan morfem.
·
Istilah pangkal atau steam digunakan
untuk menyebut bentuk dasar dalam proses
pembentukan kata inflektif, atau pembubuhan afiks inflektif.
·
Istilah akar (root) digunakan untuk
menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar
adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditanggalkan.
·
Istilah leksem ada digunakan dalam dua
bidang kajian linguistik, yaitu bidang morfologi dan bidang semantik.
g. Morfem afiks
Menurut
Chaer, 2015:23-24 menyatakan:
1. Prefiks,
yaitu afiks yang dibubuhkan dikiri bentuk dasar, yaitu prefiks ber-, me-, per-,
di-, ter-, se-, dan ke-.
2. Infiks,
yaitu afiks yang dibubuhkan di tengah kata, biasanya pada suku awal kata, yaitu
infiks –el-, -em-, dan –er-.
3. Sufiks,
adalah afiks yang dibubuhkan di kanan bentuk dasar, yaitu –kan, -i, -an dan
–nya.
4. Konfiks,
yaitu afiks yang dibubuhkan di kiri dan di kanan bentuk dasar secara bersamaan
karena konfiks ini merupakansatu kesatuan afiks. Contoh dalam Bahasa Indonesia
konfiks ke-an, ber-an, pe-an, per-an, dan se-nya.
5. Berklofiks,
yaitu kata yang dibubuhi afiks pada kiri dan kananya, tetapi pembubuhannya
tidak sekaligus, meainkan bertahap
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONEISA (pendekatan proses).
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar