Minggu, 13 Januari 2019

BAB XII Perubahan Bentuk Kata




BAB XII 

Perubahan bentuk kata

Menurut Muslich, 2008: 101 perubahan-perubahan bentuk kata dalam bahasa sangat lazim disebut sebagai gejala bahasa. Dalam bukunya Chaer (2015), Badudu (1981: 47) pada bukunya yang berjudul Pelik-Pelik Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa gejala bahasa ialah “peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya”.
Menurut Muslich, 2008: 101 adapun macam-macam gejala bahasa, yakni sebagai berikut.
1.      Analogi
Menurut uslich, 2008: 101 analogi merupakan salah satu cara pembentukan kata baru. Dalam suatu Bahasa, yang disebut analogi adalah suatu bentukan Bahasa dengan meniru contoh yang sudah ada. Dalam suatu Bahasa yang sedang tumbuh dan berkembang, pembentukan kata-kata baru (analogi) sangat penting sebeb bentukan kata baru dapat memperkaya perbendaharaan Bahasa.
Kita sering mendengar ataupun membaca kata-kata seperti dewa-dewi, putra-putri. Kedua kata itu terdapat perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Fonem /a/ dan /i/ mempunyai fungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Menyatakan laki-laki
Menyatakan perempuan
Saudara         /a/
Pemuda        /a/
Siswa           /a/
Mahasiswa  /a/
Saudari        /i/
Pemudi       /i/
Siswi          /i/
Mahasiswi  /i/
                                                                                    (Muslich, 2008:102)
Disamping bentukan-bentukan baru yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat pula bentukan yang dibentuk dari kata-kata asli, misalnya: sosialisme, sosialis, dan hedonism.

2.      Adaptasi
Menurur Muslich, 2008: 102 dalam perkembangannya, bahasa Indonesia selalu dipengaruhi oleh adanya bahasa asing dan Bahasa daerah. Dari pengaruh itu Bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah untuk melengkapi perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari Bahasa asing selalu mengalami penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang dimasukinya,dan struktur bahasanya. Oleh sebab itu, yang disebut adaptasi adalah perubahan bunyi dan struktur Bahasa asing menjadi bunyi dan struktur yang sesuai dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang diamsukinya.

Menurut Muslich, 2008: 102 menyatakan adaptasi atau penyesuaian dibedakan menjadi dua, yakni:
1)      Adaptasi fonologis, adalah penyesuaian perubahan bunyi Bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang dimasukinya.
Misalnya:
o   Kata dhahir (Arab) menjadi lahir.
o   Kata kraton (Jawa) menjadi keraton.
o   Vooloper (Belanda) menjadi pelopor
Kata dhahir merupakan bahasa asing dari bahasa Arab dan lahir merupakan bahasa yang dimasukinya.
2)      Adaptasi morfologis, adalah penyesuaian struktur bentuk kata.
Misalnya:
o   Kata prahara (Sanskerta) menjadi perkara.
o   Parameswari (Sansekerta) menjadi permaisuri.
o   Schildwacht (Belanda) menjadi sekilwak.
Kata prahara merupakan bahasa asing dari bahasa Sanskerta dan perkara merupakan bahasa yang dimasukinya.
3.      Kontaminasi
Menurut Muslich, 2008: 103 menyatakan kontaminasi dapat diartikan sebagai kerancuan. Rancu berarti campur aduk atau kacau. Pencapuradukan dua unsur bahasa yang tidak wajar, dapat berupa pencapuran antara kata, frasa, imbuhan, atau kalimat.
Misalnya pada kata dinasionalisirkan, dipublisirkan.
Terdapat kerancuan pada akhiran kata tersebut. Baik akhiran {-ir} (Belanda) maupun akhiran {-kan} memiliki fungsi yang sama yaitu membentuk kata kerja. Dinasionalisirkan berasal dari tumpang tindih dua kata dinasionalisir dan dinasionalisasikan. Peristiwa tersebut dinamakan kontaminasi bentukan kata.
4.      Hiperkorek
Muslich, 2008: 104 menyatakan hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul lalu malah menjadi salah. Maksudnya, sesuatu yang sudah betul dibetulkan lagi, yang akhirnya malah menjadi salah, setidaknya dianggap bentuk yang tidak baku.
 Misalnya:
o   Fonem /s/ menjadi /sy/;
-          Insaf menjadi insyaf
-          Saraf menjadi syaraf
o   Fonem /p/ menjadi /f/;
-          Pasal menjadi fasal
-          Paham menjadi faham
5.      Varian
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vokal /a/ pada sufiks –kan menjadi /e/.
Misalnya:
o    Diambilkan menjadi diambilken
o    Membacakan menjadi membacaken
6.      Asimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama.
Misalnya:
o   Alsalam > assalam > asalam
o   Mertua > mentua
7.      Disimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105 menyatakan disimilasi merupakan proses berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama.
Misalnya:
o   Citta (Sanskerta) menjadi cipta
o   Rapport (Belanda) menjadi lapor
8.      Adisi
Menurut Muslich, 2008: 106 menyatakan adisi merupakan perubahan yang terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dapat dibedakan menjadi tiga:
1)      Protesis, yaitu proses penambahan fonem pada awal kata.
o   Lang menjadi elang
o   Mas menjadi emas
2)      Epentesis, yaitu proses penambahan fonem di tengah kata.
o   Racana menjadi rencana
o   Kapak menjadi kampak
3)      Paragog, proses penambahan fonem pada akhir kata.
o   Lamp menjadi lampu
o   Adi menjadi adik
9.      Reduksi
Menurut Muslich, 2008: 106-107 menyatakan reduksi merupakan peristiwa pengurangan fonem dalam satu kata. Gejala reduksi dapat dibedakan menjadi tiga:
1)      Aferesia, yaitu proses penghilangan fonem pada awal kata.
o   Telentang menjadi tentang
o   Tetapi menjadi tapi
2)      Sinkop, yaitu proses penghilangan fonem pada tengah kata.
o   Sahaya menjadi saya
o   Bahasa menjadi base
3)      Apokop, yaitu proses penghilangan fonem pada akhir kata.
o   Pelangit menjadi pelangi
o   Import menjadi impor
10.  Metatesis
Menurut Muslich, 2008: 107 menyatakan metatesis merupakan perubahan kata yang terjadi karena fonem-fonemnya bertukar tempat. Misalnya:
o   Almari menjadi lemari
o   Lebat menjadi tebal
11.  Diftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 107 menyatakan diftongisasi merupakan proses perubahan suatu monoftong menjadi diftong. Misalnya:
o   Sodara menjadi saudara
o   Pulo menjadi pulau
12.  Monoftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan monoftongisasi merupakan proses perubahan suatu diftong menjadi monoftong. Misalnya:
o   Bakau menjadi bako
o   Tunai menjadi tune
13.  Anaptiksis
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan anaptiksis merupakan proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya. Misalnya:
o   Putra menjadi putera
o   Srigala menjadi serigala
14.  Haplologi
Menurut Muslich, 2008: 108 menyatakan haplologi merupakan proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Misalnya:
o   Budhidaya menjadi budaya
o   Mahardhika menjadi merdeka



Daftar Pustaka
Muslich, Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB XIII Problema morfologis dalam bahsa indonesia

BAB XIII Problema morfologis dalam Bahasa Indonesia Menurut Muslich, 2008: 131 pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbu...