BAB XII
Perubahan bentuk kata
Menurut Muslich, 2008: 101 perubahan-perubahan bentuk kata dalam
bahasa sangat lazim disebut sebagai gejala
bahasa. Dalam bukunya Chaer (2015), Badudu (1981: 47) pada bukunya yang
berjudul Pelik-Pelik Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa gejala bahasa
ialah “peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala
macam proses pembentukannya”.
Menurut Muslich, 2008: 101 adapun macam-macam gejala bahasa, yakni
sebagai berikut.
1. Analogi
Menurut uslich, 2008: 101 analogi merupakan salah satu cara
pembentukan kata baru. Dalam suatu Bahasa, yang disebut analogi adalah suatu
bentukan Bahasa dengan meniru contoh yang sudah ada. Dalam suatu Bahasa yang
sedang tumbuh dan berkembang, pembentukan kata-kata baru (analogi) sangat
penting sebeb bentukan kata baru dapat memperkaya perbendaharaan Bahasa.
Kita sering mendengar ataupun
membaca kata-kata seperti dewa-dewi, putra-putri. Kedua kata itu terdapat
perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Fonem /a/ dan /i/ mempunyai
fungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Menyatakan laki-laki
|
Menyatakan perempuan
|
Saudara /a/
Pemuda /a/
Siswa /a/
Mahasiswa /a/
|
Saudari /i/
Pemudi /i/
Siswi /i/
Mahasiswi /i/
|
(Muslich,
2008:102)
Disamping bentukan-bentukan
baru yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat pula bentukan yang
dibentuk dari kata-kata asli, misalnya: sosialisme,
sosialis, dan hedonism.
2. Adaptasi
Menurur Muslich, 2008: 102 dalam perkembangannya, bahasa Indonesia
selalu dipengaruhi oleh adanya bahasa asing dan Bahasa daerah. Dari pengaruh
itu Bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah untuk melengkapi
perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari Bahasa asing selalu mengalami
penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan lidah bangsa
pemakai Bahasa yang dimasukinya,dan struktur bahasanya. Oleh sebab itu, yang
disebut adaptasi adalah perubahan bunyi dan struktur Bahasa asing menjadi bunyi
dan struktur yang sesuai dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa
pemakai Bahasa yang diamsukinya.
Menurut Muslich, 2008: 102 menyatakan adaptasi atau penyesuaian
dibedakan menjadi dua, yakni:
1) Adaptasi
fonologis, adalah penyesuaian perubahan bunyi Bahasa asing menjadi bunyi yang
sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai Bahasa yang dimasukinya.
Misalnya:
o
Kata dhahir (Arab) menjadi lahir.
o
Kata kraton (Jawa) menjadi keraton.
o
Vooloper (Belanda) menjadi pelopor
Kata dhahir merupakan bahasa asing dari bahasa
Arab dan lahir merupakan bahasa yang dimasukinya.
2) Adaptasi
morfologis, adalah penyesuaian struktur bentuk kata.
Misalnya:
o
Kata prahara (Sanskerta) menjadi perkara.
o
Parameswari (Sansekerta) menjadi permaisuri.
o
Schildwacht (Belanda) menjadi sekilwak.
Kata prahara merupakan bahasa asing dari bahasa
Sanskerta dan perkara merupakan bahasa yang dimasukinya.
3. Kontaminasi
Menurut Muslich, 2008: 103
menyatakan kontaminasi dapat diartikan sebagai kerancuan. Rancu berarti campur
aduk atau kacau. Pencapuradukan dua unsur bahasa yang tidak wajar, dapat berupa
pencapuran antara kata, frasa, imbuhan, atau kalimat.
Misalnya pada kata dinasionalisirkan,
dipublisirkan.
Terdapat kerancuan pada
akhiran kata tersebut. Baik akhiran {-ir} (Belanda) maupun akhiran {-kan} memiliki
fungsi yang sama yaitu membentuk kata kerja. Dinasionalisirkan berasal
dari tumpang tindih dua kata dinasionalisir dan dinasionalisasikan.
Peristiwa tersebut dinamakan kontaminasi bentukan kata.
4. Hiperkorek
Muslich, 2008: 104 menyatakan
hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul lalu malah
menjadi salah. Maksudnya, sesuatu yang sudah betul dibetulkan lagi, yang
akhirnya malah menjadi salah, setidaknya dianggap bentuk yang tidak baku.
Misalnya:
o
Fonem /s/ menjadi /sy/;
-
Insaf menjadi insyaf
-
Saraf menjadi syaraf
o
Fonem /p/ menjadi /f/;
-
Pasal menjadi fasal
-
Paham menjadi faham
5. Varian
Menurut Muslich, 2008: 105
menyatakan gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde
Baru. Vokal /a/ pada sufiks –kan menjadi /e/.
Misalnya:
o
Diambilkan menjadi diambilken
o
Membacakan menjadi membacaken
6. Asimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105
menyatakan asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang
tidak sama.
Misalnya:
o
Alsalam > assalam > asalam
o
Mertua > mentua
7. Disimilasi
Menurut Muslich, 2008: 105
menyatakan disimilasi merupakan proses berubahnya dua buah fonem yang sama
menjadi tidak sama.
Misalnya:
o
Citta (Sanskerta) menjadi cipta
o
Rapport (Belanda) menjadi lapor
8. Adisi
Menurut Muslich, 2008: 106
menyatakan adisi merupakan perubahan yang terjadi dalam suatu tuturan yang
ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dapat dibedakan menjadi tiga:
1) Protesis,
yaitu
proses penambahan fonem pada awal kata.
o
Lang menjadi elang
o
Mas menjadi emas
2) Epentesis, yaitu
proses penambahan fonem di tengah kata.
o
Racana menjadi rencana
o
Kapak menjadi kampak
3) Paragog, proses
penambahan fonem pada akhir kata.
o Lamp
menjadi lampu
o Adi
menjadi adik
9. Reduksi
Menurut Muslich, 2008:
106-107 menyatakan reduksi merupakan peristiwa pengurangan fonem dalam satu
kata. Gejala reduksi dapat dibedakan menjadi tiga:
1) Aferesia,
yaitu
proses penghilangan fonem pada awal kata.
o Telentang
menjadi tentang
o Tetapi
menjadi tapi
2) Sinkop, yaitu
proses penghilangan fonem pada tengah kata.
o
Sahaya menjadi saya
o
Bahasa menjadi base
3) Apokop, yaitu
proses penghilangan fonem pada akhir kata.
o
Pelangit menjadi pelangi
o
Import menjadi impor
10. Metatesis
Menurut Muslich, 2008: 107
menyatakan metatesis merupakan perubahan kata yang terjadi karena
fonem-fonemnya bertukar tempat. Misalnya:
o
Almari menjadi lemari
o
Lebat menjadi tebal
11. Diftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 107
menyatakan diftongisasi merupakan proses perubahan suatu monoftong menjadi
diftong. Misalnya:
o
Sodara menjadi saudara
o
Pulo menjadi pulau
12. Monoftongisasi
Menurut Muslich, 2008: 108
menyatakan monoftongisasi merupakan proses perubahan suatu diftong menjadi
monoftong. Misalnya:
o
Bakau menjadi bako
o
Tunai menjadi tune
13. Anaptiksis
Menurut Muslich, 2008: 108
menyatakan anaptiksis merupakan proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata
guna melancarkan ucapannya. Misalnya:
o
Putra menjadi putera
o
Srigala menjadi serigala
14. Haplologi
Menurut Muslich, 2008: 108
menyatakan haplologi merupakan proses penghilangan suku kata yang ada di
tengah-tengah kata. Misalnya:
o
Budhidaya menjadi budaya
o
Mahardhika menjadi merdeka
Daftar
Pustaka
Muslich,
Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar