BAB IX
Pengertian Komposisi Dan Kata
Majemuk
1.
Komposisi
dalam Bahasa Indonesia
Menurut Chaer, 2015:209
menyatakan bahwa komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar
(biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi suatu “konsep”
yang tertampung dalam suatu kata. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita sudah
punya kata bukit untuk mengacu pada
konsep “gunung kecil”, tetapi dalam kehidupan nyata kita juga punya “bukit
kecil”, maka konsep bukit kecil itu kita wadahi dengan gabungan anak bukit. Contoh lain, dalam bahasa
Indonesia kita sudah punya kata merah,
yaitu salah satu jenis warna. Namun dalam kehidupan kita warna merah itu tidak
semacam, ada warna merah seperti warna darah, ada warna merah seperti warna
jambu, ada warna merah seperti warna delima, dan sebagainya. Maka, untuk
membedakan semuanya itu kita buatlah gabungan kata merah darah, merah jambu, merah delima, dan sebagainya. konsep
yang diwadahinya adalah “merah seperti merah darah”, “merah seperti warna
jambu”, “merah seperti merah delima”.
Menurut
Chaer, 2015:209 menyatakan contoh lain lagi, bahasa Indonesia memiliki kata rumah untuk mewadahi “bangunan tempat
tinggal”. Namun, dalam kehidupan kita ada konsep “bangunan tempat mengadaikan”,
maka terbentuklah komposisi rumah gadai.
Ada konsep “ bangunan tempat mengobati orang sakit”, maka terbentuklah
komposisi rumah sakit, dan ada konsep
“ bangunan tempat makan”, maka terbentuklah komposisi rumah makan. Sebaliknya, konsep mengenai “bangunan tempat tinggal
binatang” punya satu kata tunggal yaitu
kandang.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa komposisi adalah gabungan dari kata dasar yang berbeda
untuk mewadahi “suatu konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata yang
bertujuan untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata tetapi
belum ada kosa katanya dalam bentuk tunggal. Contohnya: kaya miskin, makan
minum Dan lain-lain.
2.
Kata
Majemuk
Menurut
Muslich, 2008: 57 menyatakan yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau
komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua moefem dasar atau lebih secara padu
dan menimbulkan arti yang relative baru. Hasil proses ini disebut kata majemuk.
Misalnya: kamar tidur, buku tulis, kaki tangan, keras kepala, mata air, sapu
tangan dan simpang siur. Proses majemuk itu masing-masing terdiri atas
perpaduan bentuk dasar kamar dan tidur, buku dan tulis, kaki dan tangan, keras
dan kepala, mata dan air, sapu dan tangan, serta simpang dan siur.Jadi, yang
membedakan antara komposisi dan kata majemuk adalah kata majemuk merupakan
hasil dari proses komposisi. Contoh: kata merah
dalam komposisi bisa menjadi merah
jambu, merah darah, merah delima. Sedangkan kata majemuk berfokus kepada
hasil dari komposisi yaitu merah darah,
merah jambu, merah delima.
A.
Aspek
Semantik Komposisi
Menurut Chaer, 2015:
212 menyatakan dilihat dari usaha untuk menampung konsep-konsep ini dapat di
bedakan ada lima konsep komposisi, yaitu:
1. Komposisi
yang menampung konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga membentuk
komposisi yang koordinatif. Misalnya penggabungan dasar makan dan dasar minum
menjadi komposisi makan minum. Penggabungan dasar kaya dan dasar miskin menjadi
komposisi kaya miskin. Makna gramatikal hasil penggabungan koordinatif bisa
“dan” bisa juga “atau” tergantung pada konteks kalimatnya, bisa juga bermakna
idiomatik. Contoh lain:
Baca tulis
|
Baca dan tulis
|
Pulang pergi
|
Pulang dan pergi
|
Makan pakai
|
Makan dan pakai
|
Cantik molek
|
Cantik dan molek
|
Tua muda
|
Tua dan muda
|
(Chaer,
2015:212)
2.
Komposisi yang menampung konsep-konsep
yang digabung tidak sederajat. Sehingga melahirkan komposisi yang subordinatif.
Dalam komposisi ini unsur utama merupakan unsur utama dan unsur kedua merupakan
unsur penjelas. Misalnya dasar sate sebagai unsur utama dana yam sebagai unsur
penjelas menjadi komposisi sate ayam. Contoh lain dasar sate digabung dengan
dasar Madura menjadi komposisi sate Madura yang bermakna gramatikal sate yang
berasal dari Madura. Makna gramatikal komposisi subordinatif ini memang
tergantung pada komponen makna yang dimiliki unsur keduanya. Seperti pada contoh
diatas pada sate ayam, dasar ayam memiliki komponen makna (+ bahan) dan pada
contoh kedua dasar Madura memiliki komponen makan (+ tempat) (Chaer, 2015:
213).
3.
Komposisi yang menghasilkan istilah,
yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tentu, meskipun bebas dari konteks
kalimatnya, karena sebagai istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu atau
kegiatan tertentu. Makna istilah dalam komposisi ini tidak ditentukan oleh
hubungan kedua unsurnya, melainkan ditentukan oleh keseluruhannya (Chaer, 2015:
213).
Menurut Chaer, 2015: 213-214) menyatakan
bahwa beberapa contoh istilah dalam bentuk komposisi:
a)
Istilah olahraga
- Tolak
peluru
- Angkat
besi
- Terjun
payung
- Terbang
layang
- Balap
sepeda
b)
Istilah linguistic
- Fonem
vocal
- Morfem
bebas
- Frase
endosentrik
- Kalusa
verbal
- Kalimat
inti
c)
Istilah politik
- suaka politik
- hak angket
- hak pilih
- hak prerogative
- siding paripurna
d)
Istilah pendidikan
- Buku
ajar
- Tahun
ajaran
- Guru
bantu
- Model
pembelajaran
- Tenaga
kependidikan
e)
Istilah agama islam
- Hadis
sahih
- Ayat
kursi
- Wali
hakim
- Zakat
fitrah
- Ibadah
haji
4. Komposisi
pembentukan idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan
makna idiomatik, yaitu makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun
gramatikal, misalnya, penggabungan meja dengan hijau yang menghasilkan
komposisi meja hijau dengan makna gramatikal pengadilan. Contoh lain:
Memeras
keringat
|
Bekerja
keras
|
Membanting
tulang
|
Bekerja
keras
|
Menjual
gigi
|
Tertawa
keras-keras
|
Beratap
seng
|
Sudah
tua
|
Bau
kencur
|
Masih
anak-anak
|
Chaer,
2015: 215)
Sebenarnya ada dua macam bentuk idiom,
yaitu yang pertama yang berupa idiom penuh, dimana semua unsurnya merupakan
satu kesatuan, contohnya seperti table diatas.
Yang kedua adalah indiom sebagian, yaitu idiom yang salah satu unsurnya
masih bermakna leksikal.
Contoh:
Daftar hitam
|
Daftar yang berisi
nama-nama orang yang diduga bersalah
|
Baju kebesaran
|
Baju berkenaan dengan
kepangkatan
|
Gaji buta
|
Gaji yang diteriama
meskipun sudah tidak bekerja
|
(Chaer, 2015:214-215) .
5.
Komposisi yang mengahasilkan nama, yakni
yang mengacu pada sebuah wujud dalam dunia nyata. Misalnya: Griya matraman,
Stasiun gambir, dan selat sunda (Chaer, 2015:215).
B.
Pengembangan
komposisi
Menurut
Chaer, 2015: 215 menyatakan bahwa maksud dari komposisi adalah untuk mewadahi
konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata tetapi belum ada kosa katanya
dalam bentuk tunggal. Pada tahap pertama tentunya komposisi baru berupa
penggabungan dua buah dasar, seperti dasar kereta dengan dasar api menjadi
komposisi kereta api. Namun, kemudian akibat perkembangan teknologi dan budaya
kereta api dapat digabungkan lagi dengan dasar ekspres sehingga menjadi kereta
api ekspress. Selanjutnya komposisi kereta api ekspres dapat digabung lagi
dengan dasar malam menjadi komposisi kereta api ekspres malam. Malah kemudian
komposisi kereta api ekspres mala mini dapat digabung lagi dengan komposisi
luar biasa sehingga menjadi kereta apai ekspres malam luar biasa.
Menurut
Chaer, 2015: 216 menyatakan dilihat dari segi semantik, semakin luas komposisi
itu maka maknanya semakin sempit. Kita simak kata kereta, mencakup semua jenis
kereta, termaksud kereta kuda, kereta listrik, kereta perang dan sebagainya.
Makna kereta api hanya mencakup kereta yang digerakkan dengan tenaga api (dalam
hal ini lokomotif). Jadi, tidak termaksud kereta kuda dan lain-lain. Lalu,
makna kereta api ekspres sudah semakin sempit, karena semua kereta api yang
bukan ekspres tidak termaksud dalam komposisi itu. selanjutnya, dengan
penambahan dasar malam ke dalam komposisi kereta api ekspres menyebabkan kereta
api ekspres yang berjalan di siang hari tidak termaksud di dalamnya. Makna atau
konsep semakin sempit lagi dengan penambahan dasar luar biasa, sebab yang biasa
pun tidak termaksud di dalam komposisi kereta api ekspres malam luar biasa
C.
Komposisi
nomina, verba dan ajektifa
1) Komposisi nomina
Menurut
Chaer 2015:216-217 menyatakan bahwa komposisi nomina adalah komposisi yang pada
satuan klausa berkategori nomina, misalnya:
-
kakek nenek pergi berlebaran
-
mereka memakai baju baru.
Komposisi
nomina dapat dibentuk dari dasar:
-
nomina + nomina, seperti kakek nenek,
meja kayu, dan sate kambing
-
nomina + verba, seperti meja makan, buku
ajar dan ruang tunggu
-
nomina + ajektifa, seperti guru muda,
mobil kecil dan meja hijau
-
adverbial + nomina, seperti bukan uang,
banyak buaya, beberapa murid.
Dalam
kaitannya dengan masalah semantic dapat dibedakan adanya lima macam komposisi
nomina, seperti yang ada dibicarakan pada berikut:
a.
Komposisi
nomina bermakna gramatikal
Menurut Chaer, 2015:217 menyatakan bahwa makna gramatikal
adalah makna yang muncul dalam proses penggabungan dasar dengan dasar dalam
pembentukan sebuah komposisi. Makna gramatikal yang muncul dalam proses
pembentukan komposisi nomina, antara lain adalah makna yang menyatakan:
1. “gabungan biasa”,
sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal
“gabungan biasa” ini akan terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen
makna:
a. (+ pasangan antonim relasional), misalnya:
ayah ibu, guru murid, dan suami istri
b. (+ anggota dari satu
medan makna), misalnya: topan badai, sawah ladang dan kampung halaman (Chaer,
2015:217).
2. “bagian”, sehingga
diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari, makna gramatika “bagian”
ini terjadi apabila unsur utama memiliki komponen makna (+bagian dari unsur
kedua) dan unsur kedua memiliki bagian makna (+keseluruhan memiliki unsur
keseluruhan yang mencakup unsur pertama), Contoh: awal tahun,
tengah semester, akhir bulan (Chaer, 2015:218).
3. “kepunyaan atau
pemiliki”, makna gramatikal kepunyaan ini akan terjadi apabila (+benda
termiliki) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+insan), (+yang diinsankan)
atau (+pemilik), misalnya: sepatu Adik, rumah Nenek,
tanah negara (Chaer, 2015:218).
4. “asal bahan”, kedua
unsurnya bisa disisipkan kata “terbuat dari”. Makna gramatikal asal bahan dapat
terjadi apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+bahan pembuat unsur
pertama). Misalnya: cicin emas, kursi rotan, jaket
kulit (Chaer, 2015:218).
5.
“asal tempat”, dapat disisipkan kata
berasal dari. Makna gramatikal “asal tempat” dapat terjadi apabila unsur kedua
memiliki makna (+tempat berasalnya unsur pertama). Misalnya: sate Padang,
jeruk Bali, sate Madura (Chaer, 2015:218).
6.
“bercampur atau dicampur dengan”, makna
gramatikal “bercampur” dapat terjadi apabila makna gramatikal memiliki komponen
makna (+pencampuran pada unsur pertama). Misalnya: teh susu, roti
keju, lontong sayur (Chaer, 2015:218).
7.
“hasil buatan”, makna gramatikal “hasil
buatan” ini dapat terjadi apabila unsur keduanya memiliki makna. (+pembuat
unsur pertama). Misalnya: mobil Jepang, puisi Chairil, lukisan
Afand. (Chaer, 2015:219).
8.
“tempat melakukan sesuatu”, makna
gramatikal “tempat melakukan sesuatu” dapat terjadi apabila unsur pertama
memiliki komponen makna (+ruang) dan unsur kedua memiliki komponen (+tindakan).
Misalnya: kamar periksa, rumah makan, meja tulis
(Chaer, 2015:219).
9.
“kegunaan tertentu”, makna gramatikal
“kegunaan tertentu” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen
(+kegunaan) dan komponen kedua (+tindakan), misalnya: uang belanja,
mobil dinas, kapal perang (Chaer, 2015:219).
10. “bentuk”,
makna gramatikal “bentuk” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki makna
(+benda) dan unsur kedua memiliki makna (+bentuk) atau (+wujud). Misalnya: meja
bundar, rumah mungil, karet gelang (Chaer,
2015:219).
11. “jenis”,
makna gramatikal “jenis” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen
(+benda genetik), sedangkan unsur kedua (+benda spesifik). Misalnya: mobil
sedan, pisau lipat, ayam petelur (Chaer,
2015:219).
12. “keadaan”,
makna gramatikal “keadaan” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki
komponen makna (+benda) dan unsur kedua (+keadaan). Misalnya: mobil rusak,
daerah kumuh, gubuk reyot (Chaer, 2015:220).
13. “jenis
kelamin”, makna gramatikal “jenis kelamin” dapat terjadi apabila unsur pertama
komponennya (+makhluk) dan komponen kedua (+gender). Misalnya: ayam jantan,
sapi betina, ayam jago (Chaer, 2015:220).
14. “seperti
atau menyerupai”, makna gramatikal “seperti” ini dapat terjadi apabila unsur
pertama memiliki komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas
benda). Misalnya: gula pasir, akar rambut, kopi
bubuk, gelang ular (Chaer, 2015:220).
15. “model”,
makna gramatikal “model” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki
komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas dari sesuatu).
Misalnya: celana jengki, topi koboi, rumah eropa
(Chaer, 2015:220).
16. “memakai”.
Makna gramatikal “memakai” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki
(+benda alat) dan unsur kedua (+bahan yang digunakan). Misalnya: kapal layar,
mesin uap, rem angin (Chaer, 2015:220).
17. “yang
di…” makna gramatikal “yang di..” dapat terjadi apabila unsur keduanya (+perlakuan
terhadap unsur pertama) misalnya: anak angkat, ayam goreng,
roti bakar. (Chaer, 2015:220-221).
18. “ada
di..” makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki
komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua (+ruang) atau (+tempat). Misalnya: voli
pantai, bajak laut, kapal udara (Chaer,
2015:221).
19. “yang
biasa melakukan”. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila komponen utama
memiliki makna (+pelaku) dan unsur kedua (+tindakan). Misalnya: jago balap,
jago makan, tukang todong (Chaer, 2015:221).
20. walau
atau tempat. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur komponen
pertamanya (+wadah) dan unsur kedua (+posisi). Misalnya: pintu depan,
kamar tengah, pintu samping (Chaer, 2015:221).
21. letak
atau posisi. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama
(+benda) dan komponen kedua (+posisi). Misalnya: parkir timur, pintu
samping. (Chaer, 2015:221).
22. ‘mempunyai
atau dilengkapi dengan’, sehingga di antara kedua unsur disisipkan kata
mempunyai atau dilengkapi kata mempunyai atau dilengkapi dengan. Makna
gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama (+benda alat) dan
komponen kedua (+perlengkapan). Misalnya: kursi roda, kamar
AC, sepeda motor (Chaer, 2015:221-222).
23. jenjang,
tahap dan tingkat. Makna gramatikal ini bisa terjadi jika komponen utamanya
(+kegiatan) dan komponen keduanya (+tahap) ata (+tingkatan). Misalnya: sekolah
dasar, pemain pemula, bagian pengantar
(Chaer, 2015:222).
24. rasa
atau bau. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila unsur pertamanya (+benda
rasa) dan unsur keduanya (+rasa) atau (+bau). Misalnya: kacang asin,
gulai pedas, sayur asem (Chaer, 2015:222).
b.
Komposisi
nomina bermakna idiomatik
Menurut Chaer, 2015: 222 menyatakan komposisi
idiomatic ini terdiri dari, komposisi idiomatic penuh dan sebagian.
-
Komposisi idiomatik penuh adalah
komposis yang memiliki makna yang tidak dapat di prediksi secara leksikal
maupun gramatikal. Contoh :
Kata
|
Arti
|
Orang
tua
|
Ayah
ibu
|
Kumis
kucing
|
Sejenis
tanaman obat
|
Meja
hijau
|
Pengadilan
|
Buah
bibir
|
Bahan
pembicaraan orang lain
|
(Chaer, 2015:222) .
-
Komposisi yang berupa idiom sebagian
adalah yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya, seperti
komposisi daerah hitam, pakaian kebesaran, koran kuning, gaji buta (Chaer,
2015:223).
c.
Komposisi
nomina metaforis
Menurut Chaer, 2015: 223 menyatakan komposisi
nomina metaforis ialah dengan mengambil salah satu komponen makna yang dimiliki
oleh unsur tersebut. Umpamanya unsur kaki pada unsur kaki gunung diberi makna
metaforis dari komponen makna kaki, yaitu (+terletak pada bagian bawah).
Sedangkan komposisi pada kaki meja diberi makna metaforis dari komponen makna
kaki, yaitu (+penunjang berdirinya tubuh).
Contoh-contoh
komposis nomina metaforis lainnya adalah:
·
Kaki mobil
·
Catatan kaki
·
Kepala surat
·
Kepala paku
·
Kepala kantor
d.
Komposisi
nomina dan istilah
Menurut Chaer, 2015:
224 menyatakan sebagai nama atau istilah komposisi ini tidak bermakna
gramatikal, tidak bermakna idiomatik, juga tidak bermakna metaforis. Beberapa
nama dan istilah diberikan pada contoh dibwah ini:
Nama
|
Istilah
|
Hotel Indonesia
|
Buku ajar
|
IKIP Jakarta
|
Lepas landas
|
Apotik Rini
|
Suku cadang
|
Jalan Jagorawi
|
Anak angkat
|
Kampung Bali
|
Bapak angkat
|
Dukuh Zambrud
|
Rumah tangga
|
(Chaer,
2015:224) .
e.
Komposisi
nomina dengan adverbia
Menurut Chaer, 2015:224
menyatakan bahwa makna komposisi jenis ini ditentukan oleh makna leksikal dari
kata adverbia itu. adverbial yang mendampingi nomina adalah, adverbia yang
menyatakan negasi, yaitu bukan, tiada dan tanpa. Dan adverbia yang menyatakan
jumlah, yaitu beberapa, banyak, sedikit, sejumlah, jarang, kurang. Contoh:
- Bukan
anjing
- Tiada
air
- Tanpa
uang
Kedalam
kelompok ini bisa juga bisa dimasukan komposisi dengan unsur preposisi,
seperti:
- Di
pasar
- Dari
kampus
- Ke
hutan
2 5. Komposisi Verba
Menurut
Chaer, 2015:225 menyatakan bahwa komposisi yang pada satuan klausa berkategori
verba. Misalnya: menari menyanyi, datang menghadap. Pada kalimat berikut:
- Mereka
menyanyi menari sepanjang malam
- Dia
datang mengahadapai kepala sekolah
Komposisi verba dapat dibentuk dari
dasar:
- Verba+verba,
seperti menyanyi menari
- Verba+nomina,
seperti gigit jari
- Verba+ajektifa,
seperti lompat tinggi
- Adverbia+verba,
seperti sudah makan
a.
Komposisi
verba bermakna gramatikal
Menurut
Chaer, 2015:226-229 menyatakan bahwa ada beberapa makna gramatikal, antara lain
adalah makna yang menyatakan:
1.“gabungan
biasa”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat dapat disisipkan kata dan.
Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila:
a.Kedua unsurnya memiliki makna yang
sama sebagai dua buah kata bersinonim, misalnya: bimbang ragu, bujuk rayu.
b.Kedua unsurnya merupakan anggota
dari satu medan makna. Misalnya: belajar mengajar, makan minum.
c.Kedua unsurnya merupakan pasangan
berantonim. Misalnya: jual beli, jatuh bangun (Chaer, 2015:226).
2.“gabungan
mempertontonkan”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata atau.
Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya merupakan pasangan
berantonin. Misalnya: hidup mati, gerak diam, rebah
bangun (Chaer, 2015:226).
3.“sambil”,
sehinnga di antara kedua unsurnya dapat disispkan kata sambil, makna gramatikal
ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya itu merupakan dua tindakan yang
dapat dilakukan bersamaan. Hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna
(+tindakan) dan (+gerak), sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna
(+tindakan) dan (-gerak). Misalnya: datang membawa, datang menangis
(Chaer, 2015:226-227).
4.“lalu”,
sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata lalu, makna gramatikal
ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna
(+tindakan) dan (+gerak). Unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan
(-gerak). Misalnya: datang berteriak- teriak, datang marah-marah
(Chaer, 2015:227).
5.“untuk”,
sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal
ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya (+tindakan) dan (+gerak) unsur
kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran). Misalnya: datang
menagih (hutang), pergi membayar (pajak) (Chaer,
2015:227).
6.“dengan”,
sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dengan. Makna
gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+tindakan) dan (+gerak) dan unsur kedua (+tindakan) dan (+keadaan). Misalnya: datang
merangkak, mengais terseduh-seduh (Chaer, 2015:227).
7.“secara”,
sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata secara. Makna
gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki makna (+tindakan)
dan komponen kedua memiliki makna (+cara). Misalnya: catak ulang,
terjun bebas (Chaer, 2015:227-228).
8.“alat”,
sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata menggunakan. Makna
gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna
(+tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+alat) atau (+yang
digunakan). Misalnya: balap mobil, tolak peluru
(Chaer, 2015:228).
9.“waktu”,
sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata karena. Makna
gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utama memiliki komponen makna
(+kegiatan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+saat) atau (+ketika).
Misalnya: ronda malam, jaga malam, makan siang
(Chaer, 2015:228).
10. “terhadap”,
sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata terhadap atau akan.
Makna gramatikal gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya
(+peristiwa) dan unsur keduanya (+bahaya). Misalnya: kedap air, kedap
suara, tahan lapar (Chaer, 2015:228).
11.
“ karena”, sehingga diantara kedua
unsurnya dapat diselipkan kata karena, makna gramatikal ini dapar terjadi
apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kejadian) dan kedua
(+penyebab). Misalnya: mandi darah, mabuk darah
(Chaer, 2015:228).
12.
“menjadi”, sehingga di antara kedua
unsurnya dapat disisipkan kata menjadi. Makna gramatikal ini dapat diperoleh
apabila unsur pertama memiliki (+penyebab) dan unsur kedua (+akibat). Misalnya:
jatuh cinta, jatuh sakit, jatuh miskin
(Chaer, 2015:228).
13.
“sehingga”, sehingga di antara kedua
unsurnya dapat disisipkan kata sehingga atau sampai. Makna gramatikal ini dapat
diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+tindakan) dan
unsur kedua (+kesudahan). Misalnya: tembak mati, beri tahu,
pukul mundur (Chaer, 2015:228).
14.
“menuju”, sehingga di antara kedua
unsurnya dapat disisipkan kata kea tau menuju. Makna gramatikal ini dapat
diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+gerak arah) dan unsur
kedua (+arah tujuan). Misalnya: belok kiri, belok kanan
(Chaer, 2015:229).
15.
“arah kedatangan”, sehingga di antara
kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari. Makna gramatikal ini dapat terjadi
apabila unsur utamanya memiliki makna (+gerak arah) dan unsur keduanya (+tempat
kegiatan). Misalnya: pulang kantor, habis mandi
(Chaer, 2015:229).
16.
“seperti” sehingga dapat disisipkan kata
sebagaimana. Komponen utama memiliki arti (+keadaan) dan kedua (+perbandingan).
Misalnya: lurus tabung, mati kutu, buta ayam
(Chaer, 2015:229).
b. Komposisi verba bermakna
idiomatikal
Menurut
Chaer, 2015: 229 menyatakan ada beberapa komposisi verba bermakna idiomatikal
yaitu, makna yang tidak dapat ditelusuri atau diprediksi baik secara leksikal
maupun gramatikal. Misalnya “makan garam dalam arti “berpengalama”, “makan
kawat” dalam arti sangat miskin Bila diperhatikan komposisi verba bermakna
idiomatikal ini berstuktur: verba+nomina atau berupa klausa predikat+objek atau
objek+pelengkap. Namun maknanya bukan makna gramatikal atau sintaktikal
melainkan makna idiomatikal tersebut.
Berkenaan
dengan kontruksi predikat + objek ini, maka makna verba yang menjadi predikat
itu sangat bergantung pada nomina, sebagai objek yang mengikutinya. Sebagai
contoh kita ambil verba makan, mengambil dan menjual. Pada daftar (a) ketiga
verba itu bermaksud gramatikal, pada daftar (b) bermakna idiomatikal dan daftar
(C) bermakna polisemi.
(a)
Makan tempe
|
(b) makan tangan
|
(c) makan ongkos
|
Makan tahu
|
Makan hati
|
Makan waktu
|
Mengambil uang
|
Mengambil hati
|
Mengambil istri
|
Menjual sepeda
|
Menjual gigi
|
Menjual paksa
|
(Chaer,
2015:230) .
c.
Komposisi verba dengan abverbia
Menurut
Chaer, 2015:231 menyatakan bahwa verba sebagai pengisi fungsi predikat dalam
sebuah klausa seringkali didampingi oleh sebuah adverbial atau lebih. Adverbial
pendamping verba adalah:
-
Adverbia negasi: tidak, tak, tanpa.
-
Adverbia kala: sudah, sedang, tengah
lagi, akan.
-
Adverbia keselesaian: sudah, sedang,
tengah, belum.
-
Adverbia aspectual: boleh, wajib, harus,
dapat, ingin, mau.
-
Adverbia frekuensi: sering, jarang,
pernah, acap kali
-
Adverbia kemungkinan: mungkin, pasti,
barang kali, boleh jadi.
Sebuah
verba dalam statusnya sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa bisa
didampingi oleh sebuah adverbia tertentu, tetapi juga bisa didampingi oleh dua
adverbia atau lebih. Contoh komposisi dengan kelas adverbia:
-
Tidak makan
-
Sudah tidak makan
-
Tidak akan makan
-
Sudah tidak akan makan
2 6. Komposisi adjektifa
Menurut
Chaer, 2015: 231-232 menyatakan bahwa komposisi yang satuan klausa, berkategori
ajektiva. Misalnya komposisi: cantik molek, kaya miskin. Dalam kalimat berikut.
-
Gadis yang cantik molek itu duduk
termenung
-
Kaya miskin dihadapan Allah sama saja
Komposisi adjektiva dapat dibentuk dari dasar:
-
Adjektiva+adjektiva, seperti tua muda
-
Adjektiva+nomina, seperti merah muda
-
Adjektiva+verba, seperti takut pulang
-
Adverbial+adjektifa, seperti tidak
berani
a.
Komposisi
ajektifa bermakna gramatikal
Menurut
Chaer, 2015:232-234 menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang
menyatakan:
1.“gabungan
biasa”, sehingga dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal ini dapat terjadi
apabila:
-
Memilih komponen makna yang sama sebagai
pasangan bersinonim, misal: cantic molek, gagah berani.
-
Memiliki makna yang berkebalikan sebagai
pasangan berantonim atau beraposisi, misalnya: atas bawah, timur barat.
-
Memiliki komponen makna yang sejalan
atau tidak bertentangan, misalnya: bulat panjang, gemuk pendek (Chaer,
2015:232-233).
2.Alternatif
atau pilihan, sehingga dapat disispkan kata atau, makna gramatikal ini dapat
terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna yang bertentangan atau
berantonim. Misalnya: buruk baik, mahal murah. Ada dua catatan untuk ini yang
pertama yaitu, untuk kata yang tidak memiliki pasangan antonim, maka digunakan
adverbia nagasi tidaknya. Misalalnya: jujur tidaknya, dusta
tidaknya (Chaer, 2015:233).
3.“seperti”
dapat disispi kata seperti, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur
utamanya memiliki makna (+warna) dan unsur kedua (+benda berwarna). Misalnya: merah
jambu, hijau daun (Chaer, 2015:233).
4.“serba”,
makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya berupa dasar yang
sama dan memiliki komponen makna yang sama. Stuktur komposisi ini sama dengan
struktur reduplikasi utuh. Oleh karena itu untuk membedakan maknanya, perlu
contoh dalam bentuk kalimat. Berikut contoh kalimat (a) dalah komposisi dan
kalimat (b) adalah reduplikasi
a. Mereka
memakai pakaian putih-putih
Warna seragam mereka
biru-biru
b. Putih-putih harus dibawanya
Bulat-bulat ditelannya
anak ikan itu (Chaer, 2015:233).
5.“untuk”,
dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal ini ddapat diperoleh apabila
unsur pertama memiliki makna (+sikap batin) dan makna kedua (+kejadian) atau
(+peristiwa). Misalnya: takut mati, takut pulang
(Chaer, 2015:234).
6.“kalau”,
dapat disisipkan kata kalau. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur
utama memiliki makna (+perasaan batin) unsur kedua (+tindakan). Misalnya: sedih
mendengar, senang melihat (Chaer, 2015:234).
b.
Komposisi grmatikal bermakna idiomatikal
Menurut Chaer, 2015: 234 menyatakan bahwa ada
beberapa komposisi ajektifa yang bermakna idiomatikal, yakni makna yang tidak
dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya, panjang usus
dalam arti sabar, tinggi hati dalam arti angkuh.
c.
Komposisi adjektifa dengan adverbia
Menurut
Chaer, 2008:234 menyatakan bahwa ada dua macam adverbia untuk mendamping
ajektifa yaitu:
- Adverbia
negasi: tidak
- Adverbia
derajat: agak, sama
Contoh
pemakaian
- Tidak
bagus, tidak baik
- Agak
tinggi, agak lurus
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. MORFOLOGI BAHASA INDONEISA (pendekatan proses). Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Muslich, Mansur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar